start Jalan Jalan Ah: Outside Bandung

Tips Jalan Jalan Kamu ada Disini

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Tampilkan postingan dengan label Outside Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Outside Bandung. Tampilkan semua postingan

Akhirnya Naik ke Puncak Monas Bersama Indonesia Corners

Tulisan sebelumnya dapat dibaca di Berkunjung ke Balaikota Jakarta

Naik bis wisata kota? Mauuuuuu! Ini kedua kalinya saya menumpang bis wisata kota. Pengalaman pertama di Surabaya.

Lucunya di Bandung juga ada bis wisata kota. Bandros namanya. Sudah pada tahu kan ya? Bandros adalah akronim Bandung Tour on The Bus. Namun tidak satu kali pun saya pernah menaikinya hahahaha kasian :D Saya membuat blog ini dan belum pernah naik Bandros. How irony is that :P 

Seru juga ya naik bis Jakarta City Tour. FYI bis wisatanya Jakarta ini namanya Mpok Siti. Lucu ya hihihi :D 

Ini pertama kalinya saya menumpang bis bertingkat. Bisnya bersih dan proper. Dan kayaknya semua orang pengen duduk di tingkat dua bisnya hahahaha. Untung aja peserta Jakarta Night Journey cuma 30an orang. Masih lebih dari cukup kapasitas lantai dua menampung kami semua. 

Tersedia 14 bis yang beroperasi tiap hari. Yes betul, hari kerja dan akhir pekan. Fasilitas ini gratis aja coba :D Di Bandung tahu gak berapa uang harus dibayar kalau naik Bandros si Bus City Tour itu? 800K saja, Kak. Harus booking dulu ke pengelolanya. Itu pun bisa dicancel oleh pihak mereka kapan saja bila pemilik Bandros mau pake. Yaelah Bandung belajar dari Jakarta lah perihal bus City Tour ini :P




Ini buat yang ingin jalan-jalan di Jakarta tanpa menghabiskan banyak uang, mesti nih naik bis ini. Duduknya di bangku di lantai dua ya. Asyik soalnya bisa lihat pemandangan lebih leluasa dari ketinggian. Beda sensasinya dengan melihat Jakarta dari lantai dasar bis. Sehari-hari kan sudah naik ojek dan taksi online, kendaraan pribadi, atau angkutan umum. Sekali-kali lah menumpang kendaraan yang ada memberi efek 'tinggi' kayak Jakarta Bus City Tour ini. 

Disarankan weekday sih menumpang bisnya, lebih sepi pengunjung. Di hari sabtu kemarin kami menumpang bis rute History of Jakarta. 


Jakarta Bus City Tour

Bis ini ada tiga rutenya:
1. Art and Culinary
2. History of Jakarta
3. Shopping Experience/Jakarta Modern

Senin sampai Sabtu Jam : 09.00 - 17.00 
Minggu : 12.00 - 20.00
(jam keberangkatan bis random, tapi gak nunggu lama sih, sekitar 20 menitan)

Lebih lengkap tentang rutenya kamu bisa baca di www.transjakarta.co.id pilih directorynya yang layanan khusus bis wisata. 




Sekilas Masa Lalu di Kota Tua Jakarta 

Sepanjang jalan menuju Kota Tua, saya foto-foto dari dalam bis. Sesampainya di Kota Tua, saya menatap lautan manusia di sana. Edan penuuuuuhhhh banyak orang! 

Gak banyak kegiatan kami sebagai peserta Jakarta Night Journey di sini. Hanya foto-foto sebentar saja lalu kembali ke bis. Terus saya panik motretnya karena waktu yang pendek jadi bingung mana dulu yang difoto euy heuheuehue banyak sekali photo-material di sini.

Dari dalam bis ada pemandu wisata khusus Kota Tua sih yang bercerita. Sayang saya gak memperhatikan karena asyik melihat pemandangan di luar bis :D 

Kelak saya mau balik lagi ke Kota Tua. Menyusuri satu per satu gedungnya yang kuno. Memotret detail-detail pada bangunannya. Memegang dindingnya. Moto vibe Kota Tua. Masuk ke museumnya. Dan mendengar pemandunya ngomong hahahaha :D 

Saya baca-baca sejarahnya, Kota Tua ini bisa dibilang cikalnya kota Jakarta ya. Mengamati deretan gedung kunonya dari dalam bis, saya jadi ingat bangunan tua di Surabaya yang saya susuri tahun lalu. Bentuknya mirip, suasananya juga sama. 

Jakarta dan Surabaya tipikal kotanya serupa. Pemerintah Kolonial Belanda merancang kedua kota tersebut sebagai kota dagang. Kota berbisnis. Makanya kali banyak gedung-gedung pemerintahan, pergundangan, dan perdagangan. Dibuat besar-besar dan megah dan berdekatan untuk memudahkan urusan berdagang dan kirim-kirim barang. 

Sementara itu kota tempat saya tinggal, Bandung, dirancang orang Belanda sebagai tujuan berlibur dan bersantai. Makanya di Bandung ada beberapa hotel bersejarah berdekatan lokasinya dengan destinasi belanja, makan-makan, dan tempat nongkrong yang sama legendarisnya juga.

Pendek kata sejak zaman dulu di Jakarta banyaknya gedung-gedung kantoran lah. Di Bandung banyaknya bangunan hiburan. 





Jadi konsep 'kerjanya di Jakarta, liburannya di Bandung' itu sudah ada sejak jaman kolonial. Waktu zaman kereta api belum ada, kalau Bandung kejauhan, mereka berhenti di destinasi bersantai terdekat Jakarta, yaitu Buitenzorg (Bogor) saja. Tapi setelah eranya jalur kereta api Batavia - Surabaya dan Batavia - Bandung dibuka langsung booooommm! Berbondong-bondong pengusaha dan keluarga orang Belanda datang ke Bandung untuk liburan, Bandung Parijs Van Java. 

Kita benci penjajahan Belanda. Berkat mengeruk harta kekayaan alam kita, orang Belanda bisa membangun infrastruktur yang baik di sana, di tanah Belandanya sendiri. Namun gak bisa dipungkiri juga sih legacy tata kota rancangan Belanda ini bagus-bagus, rapi, dan estetis. Contohnya ya di Kota Tua. Kalau Bandung ada di daerah Asia Afrika - Braga. Bentuk bangunannya bagus, tata kota apik, namun sejarah peristiwa di dalamnya gak semua enak untuk dibaca/didengar sih. Ya namanya juga zaman penjajahan :D




Monumen Nasional a.k.a MONAS yang Monumental!

Tujuan akhir di penghujung sore. Berkali-kali ke Jakarta, ini kali pertama saya ke Monas. Biasanya lihat dari jauh saja. Tertarik naik ke puncak Monas pun tidak. So ya gak ada harapan tinggi-tinggi datang ke tugu paling terkenal se-Indonesia ini. 

Sebagai orang non-jakarta, tinggal pun bukan di Jakarta, saya agak-agak kaget sih lihat antrian mengular yang mau ke Monas. Seriously pada niat banget antri lama-lama ya. Apa istimewanya tugu yang total tingginya 132 m itu sampai rela nunggu berjam-jam sih?

Indonesia Corners membawa kami ke puncak Monas dan di sana saya baru tahu ikon Jakarta ini memang istimewa. 

Gak ada yang gak indah kalau kamu memandangnya dari ketinggian 115 m pada malam hari kan? Di antara angin kencang dan euforia ala turis, saya menyaksikan Istiqlal dan Katedral, semua tol dalam kota, jalan layang, gedung-gedung mall dan apartemen, terus apalagi ya landmark Jakarta saya gak hapal hihihi. Bagus lah pemandangannya. Romantis-romantis gimana gitu menyaksikan panorama 360 derajat Jakarta malam hari. 




Di Puncak Monas dan Lampu Malam Jakarta yang Berkilauan

Pemandangan kota yang saya lihat di malam hari itu indah banget. Lampu-lampu bangunan berpendar. Ugh cantik banget. Everybody's happy. Ada yang langsung nge-vlog, ada yang sibuk berfoto, ada juga yang mematung terpana lampu-lampu malam Jakarta. Kami lupa dengan bangunan pencakar langit yang sebenarnya gak enak-enak amat dilihat kalau siang hari sih :D Memang sensasinya beda sih ya kalau di malam hari. Saya jadi pengen merasakan kalau ada di puncak Monas pas siang gitu gimana efeknya ya :D 

Hari yang bersejarah untuk saya karena berhasil naik ke puncak Monas. Coba didata, berapa banyak orang Jakarta yang belum pernah naik ke puncak Monas :D bahkan hampir sebagian besar teman baru saya di acara Jakarta Night Journey adalah orang Jakarta dan mengaku belum pernah ke puncak Monas. Ouch! Kalau lihat antrian masuk Monas mah saya juga males kali naik ke puncaknya hahaha. So terima kasih banyak hatur nuhun kepada Indonesia Corners yang mengirim kami ke puncak Monas!




Sayangnya saya gak bisa motret pake DSLR kalau malam hari. Kameranya masih entry level ya buram semua foto-fotonya :D Foto pemandangan Jakarta di malam hari yang saya rekam dari Monas itu saya jepret pake kamera ponsel.  Mestinya saya bawa tripod sih. Tapi kan ribet amat ya nentengin tripod hihihi :D 

Jadi ingat Asus Zenfone 3 deh kalau udah gini. Secara taglinenya saja Built for Photography. Kamera belakang 16 MP, kamera depan 8 MP. Sophisticated lah, bayangin aja dengan harga yang 3 jutaan kira-kira kualitas kayak apa yang bisa kamu nikmati dari layar 5,5 inci dan jaringan 4G ini. Baterainya support fast charging dan kapasitasnya besar 3000mAh. Tapi ya buat layar sejumbo itu mah sudah seharusnya ditunjang kapasitas baterai yang besar sih. 

Memori internal 64 GB, 4 GB RAM. Memori eksternal 128 GB. Tapi anyway teknis kelengkapan fitur dalam Asus Zenfone 3 bisa kamu baca di websitenya Asus Indonesia

Tapi sebenarnya saya tertarik fitur OIS di kameranya Asus Zenfone 3 ini sih. OIS kependekan dari Opitimal Image Stabilization. Dalam kamera Asus Zenfone 3 terdapat fitur 4-AXIS OIS. Artinya tingkat sensitifnya mencapai 4 x lipat dari smartphone dengan OIS standar. 

Kalau kamu suka motret atau kerjaan kamu menuntut harus foto-foto kapanpun dan di mana saja, dan kamu motret pake kamera ponsel, saya saranin beli smartphone yang ada fitur OIS ini. Wajib sih tepatnya mah. 

OIS ini fitur yang membuat hasil foto tetap tajam dan bagus meski jepretnya dalam kondisi goyang atau gemetar. Biasanya kendala foto buram itu muncul karena pencahayaan yang sedikit. Macam di puncak Monas waktu itu sih. Lumayan kan kalau ada fitur yang bisa meredam getaran tangan. FYI kamera DSLR saya bahkan gak punya fitur OIS ini hahaha asem! 

Next time saya ikutan acara jalan-jalannya Indonesia Corners atau trip lainnya, saya gak usah bawa-bawa DSLR sih, pake Zenfone 3 juga menurut saya cukup sudah. 


Sumber foto : http://www.unbox.ph

About Monas dan Soekarno yang Monumental

Tugu Monas ini pembuatannya makan waktu hampir 15 tahun atas inisiatif Soekarno. Uniknya sih di tahun 50an ada sayembara rancangan Monas. Bayangin tahun 50an ada sayembara mencari desainer Monas. Keren ya :D Rancangan yang masuk ke panitia ada 136 tapi gak ada yang memenuhi syarat. Alhasil Soekarno nunjuk langsung deh arsiteknya: Soedarsono dan F. Silaban. FYI F. Silaban ini adalah arsiteknya masjid Istiqlal. 

Sebenarnya sih kalau dibawa ke hari ini, Monas menurut saya gak terlalu istimewa. Kamu bisa naik ke gedung-gedung pencakar langit lainnya dan melihat Jakarta dari sana. Akan tetapi kalau konteksnya dibawa ke tahun ia pertama dibuat, maka tugu Monas adalah gedung pertama yang terbuka untuk umum yang tingginya 115 m dan bisa lihat pemandangan jakarta 360 derajat! Sebagai bonus: ada emas 17 meter ditaplok di puncaknya. Kurang monumental gimana lagi itu Monas :)  

Ngobrol sama Indra, saya dikasihtahu kalau Soekarno di awal kepemimpinannya membangun banyak gedung-gedung monumental. Monas ini salah satunya. Biayanya sih katanya dari dana ganti rugi Belanda akibat penjajahan mereka pada Indonesia. Dari uang ganti rugi itu Soekarno membangun Monas, Sarinah, Hotel Samudera Beach di Pelabuhan Ratu, termasuk Gelora Bung Karno yang waktu itu terbesar di Asia Tenggara, dan beberapa lainnya. 

Saya nanya ke Indra, kenapa Soekarno gak membangun jalan raya aja sih, kenapa harus bikin bangunan-bangunan monumental segala. Kan kita butuhnya akses, bukan gedung besar yang mewah. 

Kayaknya sih itu berhubungan dengan pride, kata Indra. Kebanggaan. 

Soekarno pengen kalau orang luar negeri datang ke Jakarta terus lihat bangunan yang monumental itu mereka jadi respek sama kita. Edan Jakarta canggih gini, emas saja ditaplokin ke puncak tugu! Respek! Gitu kesan orang melihat Jakarta yang Soekarno inginkan. Menciptakan kebanggaan. Buat sosok yang berteman baik dengan John F Kennedy dan berhasil menyatukan visi bangsa-bangsa Asia Afrika, Soekarno sendiri menurut saya sosok yang monumental. 

Wah sori nulisnya jadi ke mana-mana :D Kembali ke jalan-jalan saya di Monas. 

Monas ini terdiri dari beberapa bagian. Saya masuk lewat Pintu Gerbang, menuju ke puncak tugu saya masuk ke Ruang Museum Sejarah. Sayang gak lihat museumnya, cuma numpang lewat doang. 

Habis itu naik lift langsung ke puncak tugu. Sekitar 15 menit di sana dan turun ke Pelataran Cawan. Nongkrong sebentar lalu turun lagi via tangga dan pulang ke rumah masing-masing. 

Sebenarnya sih kalau ekplorasi semuanya ada Ruang Kemerdekaan juga. Tapi saya gak tahu juga ada ruang ini karena datang ke Monas tujuannya cuma ke puncak tugu :D

Pengalaman yang menyenangkan di Monas. Melihatnya lagi di kejauhan, bagi saya tugu tersebut gak lagi sama. Monas bagi saya sudah berbuah kenang-kenangan dalam bentuk foto dan cerita. Dengan kemudahan akses yang Indonesia Corners sediakan, malam itu saya adalah orang-orang beruntung yang terpilih. Sudah beruntung, terpilih juga. Combo! 



Ujung Perjalanan

Selesai dengan Monas, saya belum mau pulang atuh. Salman, Melly, dan Rani mengajak saya (Bandung) dan Fajrin (Lampung, peserta terjauh nih :D) makan-makan di Jalan Sabang. Good friends and great experience. Ujung perjalanan malam itu saya lewati dengan menandaskan dengan satu porsi Mie Kuah, satu porsi Baso, dua teh botol dingin, dan obrolan ringan bersama teman-teman baru.

Alhamdulillah. Perjalanan yang padat gizi dan menghabiskan isi baterai semua gawai saya hahaha. 

Sampai dengan malam hari saya masih update status dan berkabar dengan Indra. Padahal smartphone saya menyala seharian dan superaktif aplikasinya kerja semua. Thanks to Asus ZenPower Ultra yang menemani saya dalam perjalanan ini. Memang gak salah sih beli power bank ini beberapa waktu lalu. 


Sumber foto : http://www.unbox.ph

Power bank keluaran Asus yang saya beli 250ribuan ini bobotnya ringan, 215 gr saja. Tapi kapasitasnya gede banget, 10050mAh. Isi ulang baterai smartphone  juga pake gak pake lama karena ZenPower Ultra ini support fast charging.

Favorit saya sih fitur mati  otomatisnya kalau baterai smartphone sudah penuh. Pas lagi acara kan sering kelupaan cek durasi chargingnya. Gak cek kapasitas baterainya karena ya main buka smartphone buat update di twitter, instagram, dan facebook. Belum lagi pas foto-foto.

Ini kalau kamu lagi hunting power bank, saya rekomendasikan ZenPower Ultra. 

Anyway, pulang ke penginapan bukan cuma perut saya yang penuh, hati saya juga terisi. Bertemu teman-teman baru dan menyaksikan tempat-tempat yang masih asing buat saya. Hari itu saya belajar banyak lagi. Bahwa Jakarta bukan melulu tentang kemacetan dan berita-berita menjemukan di televisi nasional. Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang. Ngomong-ngomong, dua kalimat terakhir saya kutip dari Sapardi Djoko Damono. Hehehe :D

Kalau kamu pengen jalan-jalan bersama Indonesia Corners (yang mana saya rekomendasikan), follow dan update kabar dari mereka di:

Web : www.idcorners.com
Twitter dan IG : @idcorners

Sampai ketemu lagi di acara jalan-jalan berikutnya yak! Hatur nuhuuuun :)


Di dalam bis Jakarta City Tour
Kota Tua dari dalam bis Jakarta City Tour
Kota Tua



MONAS! 

Kereta menuju kaki MONAS
Terowongan menuju kaki MONAS
Di puncak tugu MONAS, difoto pake kamera ponsel

Tulisan ini diikutsertakan dalam Jakarta Night Journey Blog Competition oleh Indonesia Corners yang disponsori oleh Asus Indonesia dan menjadi pemenang ke dua! :D








Teks : Ulu
Foto, selain foto Asus: Ulu
Share:

Berkunjung ke Balaikota Jakarta Bersama Indonesia Corners

Bandung Diary goes to Jakarta! 

Eh ntar dulu, gak salah baca kan? Bisa memangnya jalan-jalan di Jakarta? Weis atuh bisa euy. Saya kira Jakarta isinya kantor-kantor pencakar langit dak kemacetan tiada ujung. Enggak juga kok ternyata. 

Saya mau cari suasana baru, toh kesempatannya ada. Dan kesempatan itu datangnya dari teman-teman Indonesia Corners. Mereka menyelenggarakan acara jalan-jalan bertajuk Jakarta Night Journey pada 23 Ooktober 2016. Sepanjang acara peserta, termasuk saya, update status di Twitter dan Instagram. Baca deh keceriaan yang kami share secara real time waktu itu di Twitter dan IG dengan tagar:  #EnjoyJakNight




Meski judulnya perjalanan di Jakarta di malam hari, namun separuh acara dilakukan sewaktu siang. 

Di Jakarta jalan-jalan ke mana saja? Oke saya rekap satu-satu ya. Bersiap lah karena ini tidak akan jadi tulisan yang pendek karena kalau sudah menulis, saya cerewet banget :D



Jakarta Smart City : Canggih dan Memudahkan

Setelah makan siang acara baru dimulai. Ke Balaikota kami berkunjung sebagai titik pertama dan langsung naik ke lantai tiga menggunakan lift. Dalam bayangan saya, memasuki gedung balaikota berarti menyaksikan detail-detail ornamen bangunan kuno. Karena tampak dari luar kan gedungnya tempo dulu banget. Eh ternyata enggak. 

Jakarta Smart City ruangannya modern abis. Ya kayak kantor-kantor zaman sekarang itu. Benda digital di mana-mana :D 

Beda dengan kantor pemerintahan yang umumnya saya lihat, di sini pegawainya anak muda semua euy. Muka-mukanya macam karyawan start-up. Tapi memang gak heran sih. Jakarta Smart City program pemerintah yang mengaplikasikan teknologi di semua bidang yang pemerintah awasi. Anak muda dan teknologi kan satu paket hehehe. 

Kok akhir minggu mereka kerja? Nampaknya sih ada yang kerja di hari Sabtu dan Minggu. Secara Jakarta Smart City ini terbuka untuk umum. Yang mau lihat kinerja Pemerintah DKI bisa ke Jakarta Smart City. Di Bandung juga ada kok yang kayak begini, cuma saya gak tahu terbuka untuk umum atau enggak. 

Divisi dan ruangan Jakarta Smart City ini kerjanya mengontrol pergerakan kota Jakarta. Dari tindak kriminal, pengaduan warga, tingkat kemacetan, fasilitas umum yang rusak, hingga pengawasan harga sembako, dan tanah, sampai ketersediaan jumlah kamar di semua rumah sakit di Jakarta! Gila detail banget. 

Belum berhenti sampai di situ. 

Jakarta Smart City juga memuat informasi pengaduan warga, kasus keluhan yang terselesaikan, dan tindakan yang masih on progress di tiap dinas. Ada satu layar besar yang memuat semua informasi tersebut. Semua dinas pemerintahan provinsi Jakarta bisa diawasi kerjanya dari layar ini. Angka dalam warna merah artinya laporan yang masuk. Warna hijau kasus yang sedang diselesaikan. Warna kuning artinya keluhan sudah diselesaikan. 

Terus saya baru tahu sekarang di Jakarta dipasangin banyak sekali CCTV. Monitoring semua CCTV di Jakarta dari ruang di Jakarta Smart City. Nilai lebihnya lagi mereka gak cuma duduk diam mengolah data dan meneruskannya ke dinas terkait. Ada Team Komunikasi yang bertugas untuk sosialisasi program pada masyarakat.




Kolaborasi is the key!

Untuk memudahkan kerja, Pemprov DKI berkolaborasi dengan beberapa aplikasi yang sudah ada lebih dulu. Qlue, Zomato, GoFood, Waze, Ragunan Zoo, Qraved, Traffi, dan Info Pangan Jakarta. 

Jarang-jarang saya dengar pemerintah mau berkolaborasi euy. Biasanya mereka apa-apa bikin sendiri kan, diproyekin gitu biar banyak uang untuk dibagi-bagi. Ya ini juga sama, tapi saya kira caranya sudah benar. Menggandeng pihak-pihak yang sudah lebih dulu bekerja. Daripada bekerja sendiri dari nol, habisin tenaga dan uang lebih banyak, mendingan kolaborasi kan :) 

Saya sering dengar sih tentang Jakarta Smart City. Tapi baru sekarang menyimak konsep dan kerjanya. Sewaktu pemandu dari Jakarta Smart City, Danil, bercerita, saya menatap layar besar di hadapan saya. Lalu berpikir, berapa banyak mafia yang sudah gigit jari akibat semua kebijakan dan pantauan program ini. Pantas saja gubernur Jakarta sekarang banyak yang gak suka ya. Radikal gitu kerjanya. Semuanya serba diawasi dan ditindaklanjuti. Ouch! 

Pendek kata sih, dengan program Jakarta Smart City ini gak ada yang bisa sembunyi dari Ahok :D wkwkwkwk. 

Baguslah Jakarta. Ada perubahan ke arah yang bagus. Emang gak bisa dinilai sempurna banget sih. Tapi tahu bahwa ada pejabat negara yang SADAR potensi teknologi dan mengaplikasikannya dalam pemerintahan, wuih saya salut banget. Begini seharusnya. 

Teknologi membantu kerja jadi lebih efisien dan efektif. Selama ini kan kita tahu betapa lambannya kinerja kerja pemerintah. Baguslah sekarang ada usaha untuk berubah. Kalau kata Gubernur Jakarta sekarang mah: jangan nyusahin orang lah! Setujuuuuu! 

Namun teknologi cuma alat. Sudah diterapkan itu bagus. Tapi tahap berikutnya kan lebih penting lagi, yaitu tindak lanjut dari semua data yang mereka peroleh di Jakarta Smart City. 

Menyaksikan pekerjaan ala Pemprov DKI ini, siapapun yang melanjutkan kerja Ahok nantinya semoga gak mengubah ini semua. Biasanya kan ganti pejabat, ganti kebijakan lah, ganti konsep lah, ganti nama lembaga lah. Jarang ada yang mau nerusin proyek pemerintah sebelumnya padahal sudah jelas proyeknya bagus. 

Teknologi (terutama ini konteksnya kota 'sebesar' Jakarta) kalau gak diterapkan sebaik-baiknya, kita bakal ketinggalan jauh sekali. Either kita masih gelantungan di pohon dan makan pisang saja atau mulai belajar berlari dan mengambil semua kesempatan yang ada dengan cepat. 




Balaikota Jakarta yang Kuno

Dari pemandangan yang canggih-canggih dan muda-muda, kami turun ke lantai dasar melihat yang tua-tua dan antik-antik. 

Balaikota Jakarta berdiri tahun 1919. First thing first kesan saya terhadap bangunan Balaikota adalah megah banget! 

Kalau di Bandung, bangunan Balaikota ini mirip dengan rumah dinasnya Gubernur Jawa Barat, Gedung Pakuan namanya. Pilarnya besar-besar, teras gedungnya adalah ruang 'menyortir' tamunya. Halamannya pun luas sekali! 

Kalau baca sejarahnya, bangunan ini dulu kantor karesidenan Jawa Barat. Jabatan karesidenan dahulu setara dengan walikota sekarang lah kira-kira mah. Balaikota Jakarta ini dibangun oleh sebab pemekaran wilayah oleh Pemerintah Kolonial. 

Saat itu Kota Tua sudah kekecilan menampung urusan pemerintah kolonial. Maka diperluaslah wilayah Batavia dari utara (pinggir laut) ke selatan dengan Balaikota itu sebagai kantornya. Kurang lebih begitu sih kalau dari sejarah yang saya baca. Baru di tahun 1960 Balaikota Jakarta jadi kantor resmi Pemda DKI. 

Ada banyak bagian dalam gedung yang bisa dilhat-lihat. Ruang tamu, ruang rapat, ruang galeri foto gubernur-gubernur Jakarta, ruang bernama Balai Agung, dan ruang auditorium. 

Seperti bangunan khas Belanda di Nusantara, langit-langitnya dan pintunya tinggi sekali. Sebegitu kepanasannya orang Belanda di Hindia Belanda, mereka merancang bangunannya biar terasa adem. Buat orang Belanda dulu, pendingin udara itu bentuknya jendela yang besar, pintu yang berbuku-buku, ventilasi, dan langit-langit yang tinggi. 




Balaikota Jakarta terbuka untuk umum. Beberapa properti dapat diduduki, namun ada juga yang dilarang untuk disentuh. Berfoto gak dilarang sama sekali. 

Sudah lama sekali saya mau banget masuk ke bangunan kayak begini. Di Bandung si Gedung Pakuan itu tertutup untuk umum. Semasa saya kecil dulu di Cirebon tiap sekolah melewati bangunan yang bentuknya sama dengan Balaikota Jakarta. Gedung Negara namanya. Gak nyangka kenginan saya terwujud di Balaikota Jakarta :D 

Ruangan favorit saya di sini adalah teras dan ruang bertamunya. Luas amat terasnya. Udah gitu gak cuma luas, tapi juga tiap sudut dirancang untuk enak duduk dan enak lihat pemandangan. Saya jadi bertanya-tanya. Kemegahan bangunan ini apa sengaja dibuat sebagai simbol kekuasaan juga? Ya emang sih bangunan kuno gede-gede. Rumah nenek kakek kita juga halamannya luas kan. Cuma yang ini mah extravagant pisan. Kayaknya memang kemegahan itu sengaja diperlihatkan ke rakyat biasa untuk menanam rasa minder agar kita patuh dan lawan politik agar mereka berkecil hati. 

Kalau mau liburan gratisan di Jakarta, kamu bisa nih ke Balaikota. Tidak ada tiket masuk. Untuk yang suka berfoto, lokasi ini cantik banget buat jadi latar foto-foto. Kayaknya mah gedung kuno gak ada yang fail ya buat difoto. Pasti bagus hasilnya.

Balaikota Jakarta
Jl. Medan Merdeka Barat no. 17-19 Jakarta

Buka Sabtu dan Minggu
09.00 - 17.00
Gratis!

Tulisan berikutnya baca di Akhirnya Naik ke Puncak Monas!















Teks : Ulu
Foto : Ulu
Share:

Pertigaan Map, Peta Jalan Kaki di Surabaya

Helow! Kumaha damang? Saya mau cerita tentang Pertigaan Map nih. Peta jalan kaki di Surabaya. Eh, sebentar dulu. Kok Surabaya? Ini kan Bandung Diary, ngapain bahas Surabaya?

Wah ketinggalan banyak ya, Bos :D Blog ini puya kategori Outside Bandung. Artinya perjalanan saya, Indra, dan Nabil di luar Bandung kami muat di sini. It's personal blog about food and travel, bukan portal tentang wisata Bandung saja. Yeah that's different :D

Well anyway, kembali ke Pertigaan Map.

Dua minggu lalu saya hadir di Spasial, Gudang Selatan, lokasi di mana kreator peta jalan kaki ini presentasi. Rupanya Anita Silvia dan Celcea Tifani roadshow presentasi tentang Pertigaan Map di beberapa kota. Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta adalah kota yang mereka datangi.




Peta jalan kaki yang mereka buat ada tiga macam. Terbagi dalam tiga kawasan yang kental aroma sejarahnya, Pertigaan Map adalah peta jalan kaki di: kawasan pecinan, kawasan eropa, dan kawasan arab.

Saya cerita dulu sedikit. Setahun lalu saya ke Surabaya, tulisannya bisa dibaca dalam judul A Quick Trip to Surabaya. Saya udah niat banget mau jalan kaki di tempat-tempat bersejarahnya. Termasuk foto-foto dan lihat rumah tuanya. Saya searching di internet peta jalan kaki dan rutenya, termasuk itinerary. Sampai saya baca sejarah kota Surabaya segala. Hasilnya saya berlabuh di situs bernama C2Olibrary. Masalahnya saya butuh rute nama jalan juga, bukan cuma itinerary dari ke A lalu ke B. Saya butuh petunjuk arah, bukan cuma susunan kunjungan. 

Karena saya punya buku Jelajah Kota Pusaka karya Emile Leeshuis, saya pake peta dari buku ini untuk berjalan kaki menyusuri bangunan tua di Surabaya. Yes, 1 dari 9 kota yang ia bahas di bukunya adalah Surabaya. Peta jalan kakinya sangat detail dan runut. Sayang sekali bukunya gak praktis untuk saya tenteng selama perjalanan di Surabaya. Jadi saya fotokopi petanya dan bawa ke Surabaya sebagai panduan perjalanan. Hal yang sama saya lakukan juga waktu ke Yogyakarta. Tulisannya bisa dibaca di judul Kotagede

Berbekal informasi yang saya baca di situs CO2library dan peta dari bukunya Emile Lesshuis, saya-Indra-Nabil melenggang di kawasan bersejarah zaman kolonial di Surabaya. Sayang waktu berkunjung di Surabaya cuma 4 hari, itu juga kepotong harus lihat pameran dalam rangka kerjaan di sebuah gedung yang saya lupa namanya. 

Makanya saya pengen balik lagi ke Surabaya nih. Belum banyak rumah kuno yang saya lihat. Setelah tahu tentang peta jalan kaki buatan Peta Pertigaan Map ini, ya makin pengen saya ke Surabaya. Sudah jelas terbagi per kawasan pula petanya.

Menariknya lagi, Anita dan Celcea membagi rute ke dalam tiga tipe: short, medium, dan long. Berikut pilihan estimasi durasi dan itinerarynya. Wuah! Ini kok bagus banget sih heuheuheuheu....




Penjelasan sejarah per kawasan tercantum dalam peta, namun secara umum saja. Keterangan perbangunannya ada juga kok di daftar tempat. Sebenarnya kalau mau lihat dan memotret bangunan kuno aja sih gak masalah gak tahu latar cerita bangunannya apa. Saya juga sering begitu, sampai di rumah saya lihat lagi fotonya dan browsing tentang sejarahnya. Namun tahu nama gedungnya apa dan berdiri tahun berapa merupakan informasi perkenalan yang bagus juga sih. Paling enggak kebayang itu teh gedung apa dan setua apa.  

Dalam peta tercantum sapaan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Saya malah pengen banget ada bahasa lokal surabaya di situ, pasti kepake kalau saya mau jajan atau nanya arah dan minta izin foto kan. Ucapan terima kasih, permisi, mau nanya, dan sejenisnya itu. Karena emang kerasa banget sih kalau sedang berkunjung ke kota lain yang bukan berbahasa sunda, saya agak canggung kalau mau nanya-nanya dan kesannya orang kota banget. Kesannya songong gimana gitu :D so yeah, belajar berbahasa lokal sedikit sebelum bertandang ke kotanya menurut saya mah perlu.

Lebih nyaman lagi kalau ada penduduk lokal yang mau menemani saya jalan-jalan sih :D 

Satu hal lain yang saya suka di peta ini adalah bagian kovernya. Kovernya bergambar teralis dan pagar dari rumah-rumah tiap kawasan. Saya baru ngeuh, di tiap kawasan, pagar dan teralisnya berbeda. Pecinan dengan gayanya sendiri, Arab juga, Eropa apalagi. Masing-masing kawasan ada signature style dan kita bisa lihat dari bentuk pagar dan teralis rumahnya. Yang lucu cover kawasan Pecinan gak persisi, miring-miring gitu dan beda ukuran. Ternyata emang begitu aslinya, kata Celcea, desainer peta ini.

Warna tiap peta juga beda-beda. Celcea cerita tiap warna di kover adalah ciri khas yang mereka tangkap dari tiap kawasan. Pecinan dengan warna merah, Eropa warna Oranye, dan Arab dengan warna hijaunya.

Dari desainnya, peta ini terlihat matang sih. Saya baru lihat peta jalan kaki yang se-hip ini. Covernya dipikirkan segitu matang. Isi petanya ringkas sih, gak terlalu detail, tapi ya cukup untuk bekal berjalan kaki. Peta dan daftar tempat ada di halaman yang sama, jadi gak ribet bolak-balik. Penggunaan petanya juga cukup efisien. Masuk ke kantong saku celana bagian belakang.

Oya satu lagi, Pertigaan Map mencantumkan informasi yang masa kini banget sih: SPOT WIFI. Gak itu aja, ada informasi rumah makan yang menyediakan makanan berdaging babi, dan toilet. Oya satu lagi yang menurut saya sebagai orang gunung nih perlu banget, informasi tempat yang ber-AC! Hihihih terus terang aja, Surabaya adalah tempat yang buat saya tuh kayaknya mataharinya ada sepuluh. Panas banget. Waktu di Surabaya, kami sering ngadem ke tempat-tempat minimarket demi nyari AC. Fasilitas sedetail ini ternyata ada di peta Pertigaan Map. Gak nyangka hohoho.




Anita dan Celcea juga naro ikon jari berbentuk huruf dua yang artinya 2-minutes-walking-distance. Saya masih belum ngerti cara menerapkan jari berangka dua saya ke dalam peta ini sih. Masih bingung :D hehehe.

Begitulah peta jalan kaki di Surabaya dari Pertigaan Map. Saya belum tahu kekurangannya apa hahaha harus praktek kali ya. Cuma saya gak tahu kapan ke Surabaya lagi. Semoga dalam waktu dekat ya :D

Masih lama adan sebentar lagi ke Surabayanya gak masalah. Mengetahui bahwa ada peta kayak gini aja saya sih udah senang. Kota-kota lain juga semestinya bikin juga peta jalan kaki kayak gini. Emang sih gak banyak wisatawan yang mau strolling di pinggir jalan dan keluar masuk gang. Eh tapi ada kok. Saya, Indra, Nabil pasti jadi deretan orang yang pertama beli peta jalan kaki di kota mana pun di Indonesia.

Kesadaran mau berjalan kaki saat berwisata menurut saya sih perlu juga. Kalau sepengalaman saya, mesti meluangkan paling enggak satu hari untuk eksplorasi kota dengan berjalan kaki. Memang merepotkan dibanding tinggal naik kendaraan dan berkunjung ke satu-dua tempat sekaligus.

Tapi entahlah, saya dan Indra suka bangunan tua. Kami suka melihat hal-hal kecil dan detail sewaktu berjalan kaki. Motret enak, ngobrol enak, lihatnya juga enak. Gak semua orang suka wisata sejarah yang ditempuh dengan berjalan kaki, tapi bukan berarti gak ada. Dan menurut saya sih jumlah turis yang segmented kayak gini makin bertambah saja. 

Seru ah. Kreatif nih wong suroboyo. Senangnya lagi mereka datang ke Bandung jadi saya bisa beli petanya langsung. Oiya, satu paket isi 3 peta, harganya Rp 50.000. Cek ke Instagram @pertigaanmap atau email ke pertigaanmap@gmail.com untuk pembelian petanya ya.




Teks dan foto : Ulu

Share:

Di Ullen Sentalu dan Gagal Menyalin Surat-surat Puteri Tinneke yang Patah Hati

Oke. Ullen Sentalu. Perjalanan ke Yogyakarta sudah lewat dua bulan lalu, saya baru sempat menuliskan salah satu tempat yang saya kunjungi di sana sekarang. Begini ceritanya. 

Sebagai warga Jawa Barat yang berasal dari Suku Sunda coret (karena darah saya setengahnya milik Indramayu-Cirebon), kami tumbuh secara egaliter. Tidak ada kerajaan untuk kami agungkan setelah Kesultanan Banten meruntuhkan Pajajaran. Dari kecil sampai dewasa, saya mengenal sosok Raja dalam bentuk cerita dan lukisan saja. 

Lalu saya ke Jawa Tengah, menyambangi daerah istimewa di sana. Yogyakarta dan hal-hal berbeda dengan yang saya alami di Bandung. Di sini raja masih ada. Meski pemerintahan berada di tampuk kepresidenan di Jakarta sana, tapi masyarakat Yogyakarta nampaknya masih mengagungkan Sultannya. Rajanya. Hal yang tidak saya lihat di Cirebon, meski kesultanannya masih ada tapi kok saya perhatikan masyarakat Cirebon biasa saja terhadap Keraton ya :D Kenapa ya...

Ngomong-ngomong, di Yogyakarta saya sempatkan mampir ke Kaliurang. Ke mana lagi kalau bukan: Ullen Sentalu. 

Pintu masuk Ullen Sentalu

Menemukan museum Ullen Sentalu tidak sesulit yang saya bayangkan. Kembali ke Ullen Sentalu untuk saya adalah napak tilas. 9 tahun lalu saya masih mahasiswi dan sendirian naik angkutan umum mengunjungi Ullen Sentalu. Kembali museum ini dari dalam kendaraan pribadi saya berujar dalam hati:  the power of youth memang benar adanya. Gak kebayang dulu naik elf Jogja sendirian, tidak tahu arah, berjalan kaki menanjak jauh pula. Hahaha. 

Ullen Sentalu kini ramai pengunjung dan terlihat kerumunan orang antri untuk masuk. Tahun 2007 saya ke Ullen Sentalu di hari kerja jam 12 siang, saya satu-satunya pengunjung di situ. Tahun 2016 dan saya kembali datang pada hari kerja jam makan siang bukan di musim liburan. Tiket masuk kini harganya Rp 30.000/orang. Saya tebus untuk berempat: saya, Indra, Ibu, dan adik saya. 

Wajah Ullen Sentalu yang saya ingat 9 tahun lalu lebih rimbun dari yang saya saksikan kemarin itu. Dahulu fasad museum ini sama sekali tidak seperti menunjukkan tempat terbuka untuk umum. Malah seperti rumah nenek sihir yang saya baca di novel-novel masa kecil. Sekarang teras Ullen Sentalu lebih terang ya. Pepohonan lebat merambat di bagian sisi kanan itu kayaknya sudah dipangkas.  Atau saya yang lupa lupa ingat wujudnya dahulu…ah entahlah. 

Tidak menunggu waktu lama, kami dipanggil pemandu. Tergabung dalam grup terdiri dari kurang dari 15 orang, Ullen Sentalu siap kami jelajahi. 


Ruangan Minum Teh, di sini boleh motret

Koleksi museum ini memperlihatkan barang pribadi keluarga Keraton. Alat musik, lukisan, foto-foto, kain batik, hingga surat-surat dari kerabat dan teman yang isinya menghibur Puteri Keraton, Tinneke, yang sedang patah hati. 

Selama tur saya melihat pegawai museum yang mengelap barang-barang dan mengecek temperatur udara ruangan. Tiap ruangan dijaga suhunya agar barangnya tak lapuk. Membayangkan kesigapan museum ini menjaga koleksinya, saya penasaran berapa biaya yang habis perbulan untu perawatan, dari mana sumber biayanya selain tiket masuk yang saya beli. 

Orang yang memandu kami sangat fasih bercerita. Macam orang yang beribu-ribu kali mengucap kata yang sama. Lancar tiada jeda, tiada keselepet lidah menyebut nama-nama yang njelimet dan pancakaki yang panjang ala kerajaan. Meski ceritanya terdengar sangat text-book dan terburu-buru, tapi kalau saya dan peserta lain bertanya ia lancar menjawab dan cukup memuaskan kok jawabannya. Dan ehm, anu, pemandunya cantik sekali :D 

Ujung museum, menuju pintu keluar.
Bangunan menara itu restoran. 

Di dalam museum ini dilarang berfoto. Saya senang juga ada aturan tersebut. Karena saya jadi fokus mendengar cerita pemandunya. Sejujurnya bagi saya memotret sekaligus menyimak adalah dua kegiatan yang sulit dilakukan bersamaan. 

Ternyata larangan tersebut juga membuat kami, para pengunjung, jadi lebih santai dan tenang ya hihihi. Karena kalau diperbolehkan foto-foto, kebayang gak sih beringasnya kami dengan kamera. Salah satu dari peserta membawa kamera go pro dan di pintu masuk sudah heboh bervideo ria namun tetap santun dan patuh dengan larangan menggunakan kamera dan video di dalam Ullen Sentalu. 

Saya memotret area yang diperbolehkan saja, itu juga dengan kamera ponsel. Ruang yang kami boleh foto adalah tempat kami minum teh. Minuman teh di Ullen Sentalu adalah ramuan tradisional untuk puteri keraton. Katanya bikin awet muda. Terdiri dari tujuh bahan rahasia campuran jahe, kayu manis, gula jawa, garam, dan daun pandan. Rasanya saya tidak ingat, enak sih tapi biasa saja :D

Masuk keluar ruang-ruang dan koridor di Ullen Sentalu ini sungguh pengalaman yang menyenangkan. Ruangannya lembab dan dingin. Di sekitarnya banyak pohon. Adem suasananya.

Baru saya lihat museum -bagian dari sebuah kerajaan (dalam hal ini keraton)- memajang benda-benda yang terbilang amat sangat pribadi. Iya emang saya belum melihat banyak isi dunia sih heuheuheueu.

Ruangan yang memperlihatkan surat-surat untuk puteri keraton (Tineke) yang patah hati itu favorit saya. Ada 29 surat. I was like ya ampun patah hatinya seorang puteri keraton ini diketahui semua orang...bagaimana rasanya semua orang tahu kamu patah hati...

Kembali ke surat saja. Tulisan dalam surat-surat dari teman dan kerabatnya Puteri Tinneke sangat halus, sopan, santun, dan puitis.

Saya ingin menyalin isi surat-surat itu, tapi pemandu mengajak kami keluar ruangan setelah ia selesai bicara. Cepat sekali padahal saya sedang mencatat isi suratnya di smartphone (yang lalu terhapus. Aaargh!). Ah saya browsing saja dan di blog milik Mbak Yusmei usemayjourney.wordpress ini saya menemukan dua surat dari Ruang Tinneke tersebut. Saya baca lagi isi suratnya, saya salin di sini. 


Kota Kasunanan
Gusti sayang
kupu tanpa sayap
Tak ada di dunia ini
Mawar tanpa duri
jarang ada atau boleh dikata tak ada
Persahabatan tanpa cacat
Juga jarang terjadi
Tetapi cinta tanpa kepercayaan
Adalah suatau bualan terbesar di dunia ini


Ullen Sentalu saya masukkan ke daftar a must visit place di Yogyakarta, di Indonesia kalau perlu. Berasal dari sebuah kalimat berbunyi Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, Ullen Sentalu artinya Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan. 




Entah apa makna dari Ullen Sentalu-nya, seingat saya pemandunya menjelaskan tapi ingatan saya berhenti di situ. Kalau ada yang tahu, boleh komen ya kasihtahu saya juga. 

Melongok kehidupan kerajaan memang selalu menarik (untuk saya pribadi). Mungkin karena auranya yang misterius, kaku, sekaligus unik. Ullen Sentalu adalah hal-hal yang tidak terjadi dalam hidup banyak orang sih. Dan saya suka penasaran kehidupan di masa lampau teh gimana sih. 

Tur jalan kaki yang menghabiskan waktu hampir 60 menit itu baru saya sadari memperlihatkan banyak koleksi perempuan ningrat keraton. Mulai dari Gusti Nurul, Gusti Menuk, Ibu Ageng, dan Tinneke. Uniknya lagi, perempuan-perempuan itu tidak seperti perempuan keraton yang saya bayangkan deh. Gusti Nurul anti poligami dan kelihatannya tomboy, dan beliau kelihatannya bebas-bebas saja melakukan hal yang ia suka. Gusti Menuk fashionable abis, Ibu Ageng nampaknya macam istri-istri yang dominan pada suaminya :D Tangguh macam wanita bertangan besi. 

Habis ini saya mau lihat Museum Kartini deh. Semoga kesampaian tahun ini ke Jepara dan Lasem. 


Share:

Cerita Dari Purwakarta

Sate Maranggi terenak di Purwakarta di mana menurutmu? Di kota ini frekuensi saya menyantap Sate Maranggi baru di 4 tempat saja. 

Pertama, di pinggir jalan sebuah lapak non-permanen tanpa nama. Pada malam minggu sewaktu menunggu peluncuran air mandur Sri Baduga (Situ Buleud).
Kedua, di Sate Pareang di Wanayasa saat hendak ke Curug.  
Ketiga, di Sate Cibungur sebagai meeting point saya dengan teman-teman sebelum piknik di Purwakarta.
Keempat di restoran Sambel Hejo setelah menonton puncak HUT Purwakarta. 


Sate Maranggi Cibungur

Pengalaman pertama yang berkesan. Bukan hanya karena pengalamannya saja, tapi karena rasanya yang enak terenak dari semuanya. Dagingnya yang super empuk saya tidak butuh waktu lama mengunyahnya. Lezat sekali. 

Usai dengan Sate Maranggi, saya bertemu dengan sepiring ayam kampung goreng ala Purwakarta di restoran Sambel Hejo dan restoran bernama lucu (jika kamu tahu artinya dalam bahasa Sunda) Sajolna. Tidak kalah enak! Empuk dan gurihnya luar biasa, meninggalkan kesan teramat dalam di hati saya. 

Jika saya harus kembali ke Purwakarta, saya akan datang pada malam minggu untuk Sate Maranggi Tak Bernama di Situ Buleud dan keesokan harinya ke RM. Sajolna untuk menyantap Ayam Kampung Goreng yang super enak di sana! 

Dua hari di Purwakarta, saya tidak berkunjung ke banyak tempat. Hanya sedikit saja tapi berkesan. 

Kamu tahu Purwakarta adalah kota yang lebih hangat dari Bandung? Setengah hari pertama saya tidak merasakannya. Mungkin cuaca kelabu. Anginnya bertiup sana-sini, membantu mendinginkan suhu. Saat menandaskan Sate Maranggi dan Sop Iga di Cibungur, tubuh saya tidak kepanasan sampai harus kipas-kipas. 

Sate Maranggi Cibungurnya terasa enak tapi tak istimewa. Sop Iga rasanya jauh lebih menonjol dan berkesan. Kebersihannya oke, kecepatan makanannya mendarat di meja makan saya juga oke banget, harga relatif terjangkau. Jangan lupa pesan es kelapa muda, terasa sangat menyegarkan setelah mulut ini menyantap perdagingan. 

Dengan titik-titik air yang masih menggantung di angkasa, saya dan teman-teman bergegas ke Waduk Jatiluhur dan Giritirta. Balapan dengan hujan, Waduk Jatiluhur didahulukan. 


Waduk Jatiluhur

Ini pertama kalinya saya melihat Waduk yang katanya menahan banjir di Karawang dan Bekasi tersebut. Setahu saya, Jati adalah nama sebuah pohon dan Luhur artinya tinggi. Jatiluhur letaknya memang berada di ketinggian. Jalanan menuju ke sana menanjak dan berkelok. Masih banyak pohon di sisi kanan kirinya. Di sini Purwakarta terasa adem. 

Karena bendungan yang dibuat tahun 1960an ini juga dimaksudkan sebagai objek wisata, tersedia fasilitas nongkrong lengkap dengan sarana permainan sederhana di bawah pepohonan rindang. Cocok untuk orang tua yang bawa anak. Juga menarik untuk muda mudi yang ingin beromantis ria melihat perairan Waduk Jatiluhur sambil terayun-ayun di ayunan. 

Melamun sebentar di tepi Waduk Jatiluhur yang kelilingnya mencapai 150 km ini, saya membuka Google dan mencari tahu berapa luasnya. Sering saya membaca tentang Waduk Jatiluhur pada artikel sebuah surat kabar, pada tulisan sambil lewat yang saya baca saat browsing. Namun informasi itu terlewat begitu saja. Sekarang saya ada tepi waduknya, membaca lagi dan menelan informasi tentang Waduk Jatiluhur. Rasanya seperti mengoles balsem ke kulit, terasa banget nancap dalam ingatan hahaha :D 

Saya mengucap selamat tinggal pada Waduk Jatiluhur dan menyongsong Giritirta yang terkenal dengan Skypool-nya. 


Skypool Giritirta

Syukurlah hujan tidak turun. Tapi langit masih abu-abu. Menambah efek dramatis pada Giritirta yang disebut-sebut bagai pemandian khayangan. Di sini kolam renangnya berbatasan dengan tebing. Jadi terbayang tidak pemandangan hamparan lembahnya? 

Orang-orang mengatakan berenang di Giritirta bagai berenang di awan. Saya tidak berenang. Hanya berkeliling melihat-lihat saja. Sebagian pemandangan lembah dan perbukitan tertutup entah awan entah kabut. 

Mengelilingi Giritirta, saya mencium bau kaporit yang cukup tajam. Tidak terlalu masalah sih untuk saya, tapi untuk kamu saya tidak tahu. Di sini tersedia bukan hanya kolam renang dan fasilitas mandi saja, ada juga restoran, tempat menginap, dan areal wisata outbond.

Mungkin saya akan kembali ke lokasi pemandian di kawasan Wanayasa ini. Tidak lupa membawa pakaian renang.  

Kembali ke Kota Purwakarta dan saatnya istirahat. 


Sarapan di Harper Purwakarta

Merebahkan diri pada sebuah ranjang di kamar no 500 Hotel Harper Purwakarta terasa sangat nikmat. Sungguh hari yang panjang. Purwakarta dalam ingatan adalah tempat yang tak akan habis wisatanya disemai. Mungkin harus ada Purwakarta Diary :D Ah bukan saya yang buat, kamu dong warga Purwakartanya. 

Sate Maranggi Cibungur 
Sate Maranggi 1 tusuk 3K
Sop Sapi 18K
Nasi Timbel 5K
Es kelapa muda 15K

Tiket masuk Jatiluhur 10K

Tiket masuk Giritirta
Senin - Jumat : 20K
Sabtu & minggu : 25K
Tiket berenang : 60K



Share:

Kampung Andir Purwakarta, Pemukiman Rumah Adat Sunda

Purwakarta masih kelabu. Hujan deras semalam menyisakan mendung yang menggantung. Hari ini hari terakhir saya berada di Purwakarta, sore nanti akan kembali ke Bandung.

Setelah menyaksikan Air Mancur Sri Baduga dan Museum Diorama, sekarang judulnya menengok semesta Purwakarta. Naik ke daerah yang lebih tinggi dari pusat kotanya. Berkunjung ke Kampung Andir, santap siang di Warung Sate Maranggi yang sederhana tapi luar biasa nikmatnya,  dan menjadi tamu di Legok Barong.

(Baca juga: Cara Menuju Purwakarta)


Hari ini satu orang istimewa akan mengantar kami. Warga lokal Purwakarta, sehari-hari bekerja di dinas pemerintahan setempat. Ata namanya. Kang Ata, begitu saya menyapanya.

Rumah Sunda di Kampung Andir


Kampung Baru, begitu warga desa di sekitar kampung tersebut menyebutnya. Namun secara resmi nama kampung kami tuju adalah Kampung Andir. Terletak di Desa Cianting Kecamatan Sukatani, Kampung Andir ini dapat kita capai melalui Jalan Raya Plered. Plered populer sebagai sentra keramik. Tapi kami tidak berkunjung melihat pembuatan keramiknya. 


Pertaruhan sebagai warga Purwakarta yang disandang Kang Ata mulai diuji. Tersesat dua kali ke Kampung Andir, ia tampak senewen. “Agak lupa posisinya di mana,” ujar Kang Ata sambil tersenyum.

Tidak ada papan petunjuk jalan. Kang Ata bertanya pada penduduk yang nongkrong di pinggir jalan. Tidak nyasar terlalu lama, sampai lah kami di Kampung Andir. Oala…pantas tersesat, jalan masuknya memang agak tricky. Dari kota Purwakarta, jalan masuknya berada di sisi kiri jalan raya Plered. Ada tanah lapang di situ, itulah pintu masuknya.

Saya membayangkan perjalanan offroad panjang, seru, dan menegangkan yang akan kami tempuh menuju Kampung Andir. Tapi tidak tuh. Berjalan kaki 10 menit dari pinggir jalan raya Plered juga sudah sampai. Jalannya masih berupa tanah bukan aspal. Semoga Pemkab Purwakarta secepatnya mempermulus jalan pendek tersebut.

(Baca juga : Menginap di Purwakarta, Enaknya di Mana ya?)


There you go, Kampung Andir. Sekali bertatap mata saya tahu mengapa kampung ini unik. Satu kampung bentuk rumahnya sama: Rumah Adat Sunda.

Saya mengenal orang sunda sebagai orang yang dekat dengan alam. Memiliki balong dan kebon tuh cita-cita sederhana orang Sunda deh kayaknya. Menanam sayuran di kebon dan memelihara ikan di balong. Sumber pangan mereka sederhana toh sehari-hari ada di sekitar mereka. Sama halnya dengan tempat tinggal, sederhana, fungsional, dan ramah lingkungan.

Atap rumah adat sunda berbeda beda jenis dan namanya tergantung bentuk atap dan pintu rumahnya. Ada Suhunan Jolopong, Tagong Anjing, Badak Heuay, Perahu Kemureb, Jubleg Nangkub, dan Buka Pongpok. Bentuk paling umum namanya Suhunan Jolopong karena bentuknya paling sederhana. Kita dapat melihatnya di desa-desa cagar budaya.

Desa cagar budaya khusus adat sunda masih ada yang bertahan. Baduy Luar di Banten, Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Mahmud di Bandung, Kampung Dukuh di Garut, dan Kampung Ciptagelar di Sukabumi. Satu kampung jumlah penghuninya sama, kalau berlebih mereka diharuskan keluar dari kampung tersebut.

Makin sedikit jumlah Kepala Keluarga di suatu kampung, jaminan keamanan sosialnya makin kuat. Gampang dikontrolnya kali maksudnya ya. Nampaknya hal yang sama hendak diterapkan di kabupaten Purwakarta, yakni membuat pemukiman dengan rumah adat sunda dengan jumlah rumah yang sudah ditentukan.

Kampung Andir ini rencananya akan menjadi desa wisata. Tapi dari hasil kunjungan saya ke sana (halah kunjungan...wkwkwkw orang penting banget), PR-nya Pemkab Purwakarta masih banyak. Menyediakan sarana air bersih dan listrik, menyediakan akses jalan yang mulus, juga menciptakan aktivitas yang menarik turis-turis. Hari gini apa yang gak masuk Instagram. Emang sih kesannya buatan banget ya, tapi menurut saya kenapa enggak. Selama warga senang dan mau diarahkan ya fair aja. Win-win solution.




Berderet rapi, rumah sunda di Kampung Andir ada 66 jumlahnya. Baru terisi 44 keluarga. Mereka yang menempati rumah ini merupakan warga yang direlokasi dari Cilawang, kawasan yang mengalami longsor beberapa tahun lalu.

Satu keluarga Kampung Andir menyambut kami. Duduk di emper, kami mengobrol ke sana ke mari, berkenalan sampai mencurahkan isi hati. Pindah dari tanah kelahiran pastinya berat di hati. Tapi saya rasa keukeuh menghuni rumahnya di Cilawang juga resikonya tinggi. Longsor bisa terjadi lagi.

Saya permisi pada mereka, mengambil waktu sebentar untuk berkeliling Kampung Andir. Melihat keseharian mereka, mengenal lebih dekat. Terdengar lagu sunda yang terpancar dari radio dari salah satu rumah, bayi merengek, dan sekumpulan anak perempuan yang asyik bersenda gurau.

(Baca juga : Gowes Sepeda Onthel di Museum Diorama)


Ayam-ayam berkeliaran. Tidak ada kandangnya. Bentuk rumah yang semi panggung memang dilakukan secara sengaja, bagian kolong rumah dijadikan rumah untuk ayam-ayam tersebut.

Menarik juga konsep kampung dengan rumah adat sunda ini. Bupati Purwakarta yang saya kenal sebatas berita di surat kabar dan media online, memang punya ketertarikan pada budaya dan sejarah, khususnya budaya sunda. Tidak heran program-programnya sering bersinggungan dengan tema kesukaannya tersebut. Dari taman air mancur dan museum diorama yang saya lihat kemarin, saya percaya beliau tidak setengah-setengah orangnya. 







Belum sempurna benar memang, harus ada petugas pemerintahyang mengecek secara berkala fasilitas umum di Kampung Andir. Kalau ini proyek ini berhasil, warga terpuaskan, saya yakin proyek-proyek pemerintah yang lain bisa melenggang mulus.

Sebelum pamit, saya jajan banyak di warung. Kok sudah lapar ya, padahal baru jam 10.30.

Berunding dengan teman seperjalanan, kami sepakat untuk makan siang. Kang Ata berkeling, pertanda cowok pendiam ini mengetahui sesuatu yang kami sama sekali tidak mengetahuinya. Kang Ata menawarkan sebuah tempat yang istimewa. “Makan Sate Maranggi aja, ya. Enak satenya. Terkenal tempatnya. Malahan jadi langganannya Bupati Purwakarta,” ujar Kang Ata, bangga. 

Rupanya sudah jadi rahasia umum kalau orang nomor 1 di Purwakarta tersebut adalah pelanggan setia Warung Pareang, rumah makan tersebutlah yang kami tuju, ke Desa Kiarapedes, Kecamatan Kiarapedes.

Sate Maranggi di Warung Pareang, Sop Sapinya ENAAAAAAAAAAK!


Oke gak basa basi ya. Kalian wajib memesan menu Sop Sapi di rumah makan ini. Gila enaknya kebangetan! ENAK ENAK ENAK! Enaknya harus saya pangkatin sejuta. Menurut saya skor kelezatan sop kakinya melebihi rasa satenya.

Pedas dari merica terasa begitu kuat mendominasi sop sapinya. Beradu dengan bumbu rempah lainnya, pedas itu hanya di mulut saja karena di perut saya efeknya sangat menghangatkan. Seperti memakan masakan nenek, ada banyak rasa cinta di situ.

Saya kayaknya mengalami mabok sop sapi Warung Pareang. Pertama kali menyuap sop kakinya, rasanya melayang-layang, seperti dikirim pulang ke rumah, ke kampung halaman. Seruput sop tersebut untuk kedua kalinya, eugh…tubuh ini terasa lebih ringan, seperti terangkat ke udara. Tambahkan nasi, tambahkan sate…ugh…saya gak bisa berhenti makan. Tahu-tahu perut sudah penuh, mangkok dan piring di hadapan saya ludes tak bersisa, tandas tiada ampun.






Segelas teh hangat meredakan semarak daging sapi di dalam mulut dan perut saya. Ueghhhh bahkan sesederhana minum teh juga masih sedap. Saya bisa pingsan keenakan di sini.

Selesai? Belum. Ada duren. Hahahaha! Daging-daging sapi yang bertemu daging-daging duren, alamak pesta pora tak henti-henti perut saya ini! Tolong seseorang pencetkan tombol stopnya!

Ya Tuhan, barusan itu kenikmatan tiada tara. Saya berada di Pareang, di sebuah saung warung makan sederhana di dataran tinggi Purwakarta, tuan rumahnya sangat ramah, dan menu-menunya luar biasa nikmat. Sampai pada menit kami pergi dari warung makan ini, saya berbisik dalam hati, berjanji akan kembali lagi ke sini. 
Warung Pareang di antara perkebunan teh Purwakarta: highly recommended! Ada rasa yang berbeda dari mericanya. Membaca nama desanya, Kiarapedes, harusnya sih di sana banyak pohon lada ya. Karena Kiara = pohon, pedes = merica, lada.

Dari Purwakarta arahkan kendaraan ke Wanayasa. Di suatu titik yang bernama Pangkalan Ojek Desa Legokhuni, kalian belok kiri. Nah dari sini tanya-tanya penduduk saja Warung Pareang di mana. Saya kehilangan orientasi waktu mencatat petunjuk arah, banyak sekali jalan simpang tiga di sini. Untungnya Kang Ata sudah tahu arah jalannya.

Warung Pareang, Desa Kiarapedes, Wanayasa Purwakarta
Sop Sapi Rp 20.000
Sate Maranggi Rp 2.000/tusuk
Nasi Rp 5.000

Selamat Datang di Legok Barong!


Masih di kawasan Wanayasa, dari Kiarapedes kami turun gunung sedikit. Aduhai pemandangannya elok sekali. Perkebunan teh, jalan aspal lurus dengan kontur tanjakan dan turunan. Tidak jauh di batas cakrawala sana ada gunung tinggi menjulang tertutup kabut. Garis-garis gunungnya yang kokoh dan gagah masih bisa saya lihat. Duh cantiknya...

Kembali ke jalan utama, kami hendak ke Legok Barong. Nah ini juga sama, tidak ada papan petunjuk jalannya euy. Jalan masuknnya ada di sebelah kiri jalan kalau dari arah kota Purwakarta. Jalan menyempit dan menanjak. 10 menit kemudian kami berbelok mengambil arah masuk hutan. Udara makin sejuk dan segar.

Tiket masuk ke Legok Barong Rp 2.000/orang. Saya pikir tempatnya bakal sepi ternyata sebaliknya, ramai kunjungan dari warga lokal, muda-mudi dan keluarga kecil. Mungkin karena hari minggu juga ya. Hari berlibur sedunia.

Ada dua tempat khusus yang bisa kita lihat di sini. Gua Panyileukan dan Curug Cimanah Rasa. Saya dan teman-teman mau lihat curugnya saja. 

Berjalan kaki sekitar 2 km. Medan perjalanan termasuk mudah. Berupa jalan setapak bertanah liat dengan pemandangan pepohonan pinus. Makin jauh langkah kaki mengayun, makin rapat dan banyak jenis pepohonannya. Untungnya tidak hujan, kalau hujan pasti menyulitkan sih.

Makin masuk ke hutan, udara makin lembab. Nyamuk bertebaran, seperti kejang-kejang, gak nahan senang melihat manusia :D Horeee makan besar, gitu kali kata nyamuk-nyamuk.

Air terjunnya tidak terlalu istimewa, debit air pun kecil. Ceruk di bawah air terjunnya mirip kolam air. Bisa nyemplung ke dalamnya karena dangkal.









Kami bukanlah satu-satunya yang berada di Curug Cimanah Rasa. Ada sekitar 10 orang lainnya di situ sedang asyik berswafoto. Meski penampilan curug ini sederhana, ya lumayanlah orang-orang berdatangan ingin bermain air dan berfoto di sini.

Saya juga sempatkan bermain air sebentar. Jadi penasaran dengan Curug lainnya di Purwakarta. Curug Cijalu misalnya. Lain kali datang lagi ke Purwakarta, saya susurin satu-satu air terjunnya. 

Khawatir akan turun hujan, kami segera balik arah ke tempat tadi memarkirkan mobil. Dua kilometer kembali kami susuri. Saya baru menyadari ada beberapa jalan yang bercabang karena sempat salah memilih cabang jalan :D Sebenarnya gak usah takut tersesat karena di tiap cabang jalan ada batu-batu yang dicat, berfungsi sebagai petunjuk arah.
Istirahat dari total perjalanan kaki sepanjang 4 km, saya duduk mengamati wisata alam Legok Barong. Sebotol air minum sudah habis. Kang Ata menyapa, memberi kode untuk pulang “hayuk atuh,” katanya.

Maka beranjaklah kami semua, turun gunung kembali ke kota Purwakarta. Kang Ata menurunkan kami di pool travel, lokasi yang sama dengan titik kedatangan kami di Purwakarta hari sabtu kemarin.

Ini dia waktunya, memberi salam sampai jumpa pada Purwakarta. Dua hari yang menyenangkan, memuaskan, dan memberi pengalaman baru. Purwakarta memang istimewa. Kulinernya, wisata alamnya, semangat kemandiriannya. Semoga mereka gak berhenti berinovasi, mau melihat ke depan dan menjemput impian menjadi sebuah kabupaten yang maju.






Teks : Nurul Ulu Wachdiyyah
Foto : Nurul Ulu Wachdiyyah
Share:

Seminar Digital GRATIS 100%

Paket TOUR Pilihan

Berlaku: 05 Feb 2019 s.d. 30 Mei 2019 JELAJAH 3 PULAU SERIBU (ONE DAY) *AV-D Mulai dai IDR 100.000

Berlaku: 21 Nov 2018 – 31 Mei 2019 BROMO ONE DAY TRIP *CT-D Mulai dari IDR 300.000

Berlaku: 04 Mei 2019 – 05 Mei 2019 PULAU TIDUNG 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 350.000

Berlaku: 06 Apr 2019 – 30 Mei 2019 PULAU PARI 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 360.000

Berlaku: 27 Mar 2019 – 31 Mei 2019 PULAU HARAPAN 2D1N (OPEN TRIP) *AVD Mulai dari IDR 370.000

Berlaku: 02 Jul 2018 – 30 Mei 2019 PULAU AYER ODT *AV.D Mulai dari IDR 399.000

Berlaku: 01 Agu 2018 – 30 Mei 2019 PULAU PARI 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 809.000

Berlaku: 02 Jul 2018 – 30 Mei 2019 PULAU PARI 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 809.000

Berlaku: 13 Jun 2019 – 20 Jun 2019 8D7N CONSORSIUM CHINA VIETNAM BY SJ APR-JUN *TX Mulai dari IDR 7.980.000

Berlaku: 29 Apr 2019 – 03 Mei 2019 5 HARI 3 MALAM KOREA NAMI ISLAND *TX Mulai dari IDR 8.900.000

Berlaku: 05 Feb 2019 s.d. 30 Mei 2019 5 HARI 3 MALAM HAINAN ISLAND HARI SABTU STARTING JAKARTA JUN *TX Mulai dari IDR 4.650.000

Berlaku: 05 Mei 2019 – 08 Mei 2019 4 HARI 3 MALAM BANGKOK PATTAYA *TX Mulai dari IDR 5.500.000

Berlaku: 14 Mei 2019 – 18 Mei 2019 5D THAILAND MALAYSIA SINGAPORE *TX Mulai dari IDR 5.800.000

Berlaku: 01 Nov 2019 – 04 Nov 2019 MOTOGP GRAND PRIX OF MALAYSIA SEPANG INTL CIRCUIT 4D3N *TX Mulai dari IDR 5.900.000

Berlaku: 13 Jun 2019 – 20 Jun 2019 8D7N CONSORSIUM CHINA VIETNAM BY SJ APR-JUN *TX Mulai dari IDR 7.980.000

Berlaku: 12 Mei 2019 – 16 Mei 2019 5 HARI 3 MALAM KOREA NAMI ISLAND Mulai dari IDR 9.000.000

Jadi Agen Sekarang Gratis!

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support