start Jalan Jalan Ah: penginapan

Tips Jalan Jalan Kamu ada Disini

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Bulan Promo GRATIS

Menjadi Agen Travel - WA.+6285240788670

Tampilkan postingan dengan label penginapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penginapan. Tampilkan semua postingan

Splish Splash di Hotel Bentani, Cirebon

 

Seperti halnya ketika berangkat ke Cirebon, hujan turun dengan deras sepanjang jalan tol. Membuat saya sedikit cemas apakah perjalan pertama kami sekeluarga ke Cirebon ini akan seru atau tidak kalau hujan terus. Alhamdulillah, selama kami di sana, hujan tidak turun sama sekali. Bahkan cuaca termasuk teduh membuat kami merasa sangat nyaman dan ingin kembali lagi. Hujan baru turun dengan deras ketika kami dalam perjalanan pulang.

Beruntung arus perjalanan termasuk lancar walaupun hujan deras. Anak-anak tertidur dengan pulas. Saya pun mulai kriyep-kriyep matanya. Ikutan ngantuk juga ketika kemudian ada telpon dari papah.

Papah menelpon untuk bertanya tentang Cirebon. Katanya, bulan depan ada rencana mau ke Cirebon untuk menghadiri undangan pernikahan. Saya pun spontan langsung berkata, "Pah, Chi sekeluarga ikut, yaaa!" Jalan-jalan sama papah dan mamah itu berarti kata gratis ada di depan mata huahahaha. Minimal penginapannya, lah. Apalagi, Nai sempat susah diajak pulang. Dia masih kepingin berlama-lama di Cirebon. Begitu bangun tidur, Nai senang banget tau akan berlibur kembali ke Cirebon.

Mamah sempat bertanya tentang penginapan kami selama di Cirebon. Chi pun merekomendasikan hotel tempat kami menginap selama di sana. Keputusannya sih terserah mamah dan papah, lah. Yang akhirnya memilih Hotel Bentani untuk menginap. Saya gak tau persis alasan kenapa memilih hotel Bentani. Papah pernah bilang kalau undangannya belum juga datang, khawatir gak dapat penginapan kalau terlalu mepet. Setelah undangan diterima, papah juga bilang kalau hotel dan tempat resepsinya cuma berjarak beberapa ratus meter saja itupun gak pake belok-belok jalannya. Ya, mungkin 2 alasan itu yang akhirnya memilih hotel Bentani.

[Silakan baca: Batiqa Hotel, Penginapan Strategis di Cirebon]


Seperti perjalanan pertama kami ke Cirebon, kali ini hujan pun kembali mengguyur. Bahkan di Cirebon pun hujan masih turun dengan deras. Agak macet juga dari pintu keluar tol menuju hotel. Gak sulit sih sebetulnya mencari hotel Bentani ini. Untuk gampangnya, cari aja stasiun Cirebon. Jarak antara hotel Bentani dan stasiun Cirebon sangat dekat. Masih di jalan yang sama dan kami sempat berjalan kaki ke stasiun, hanya 5 menit saja jalan santai. Deket banget, kan.
Bentani adalah hotel bintang 3. Saya gak tau sudah berapa usia hotel ini tapi kalau dari tampilannya sih termasuk hotel tua. Apalagi di sekitarnya banyak berdiri hotel baru dengan tampilan yang modern. Kelihatan banget kalau ini hotel udah senior hehehe. Meskipun hotel tua, kesan spooky dan kumuh tidak terlihat di sana. Hotelnya terlihat bersih dan nyaman.


Kami booking 3 kamar superior. Kamar dengan luas 24 m2 ini cukup, lah. Masih leluasa bergerak. Kamar mandinya menggunakan bath tub. Rasanya saya udah agak jarang menemukan hotel yang tipe kamar standar atau superior trus kamar mandinya menggunakan bath tub. Kebanyakan sudah menggunakan shower. Kalau tipe kamar suite mungkin masih ada yang menggunakan bath tub.

Trus, di kamar juga disediakan berbagai camilan. Tentu aja berbayar kalau kita makan camilannya. Ini juga mulai agak jarang saya temukan kalau menginap di hotel. Sekarang paling cuma disediakan air putih, kopi, atau teh aja. Bath tub dan snack memang mengingatkan saya ketika menginap di hotel zaman dulu. Kalau udah gini siapa yang bakal senang? Tentu aja anak-anak! Apalagi Nai ditambah lagi ada kolam renang pula. Makin kesenengan deh dia nginep di hotel Bentani

Kereta Singabarong

Empal Gentong oh Empal Gentong ...

Hujan masih turun dengan sangat deras. Nai udah merengek aja kepengen berenang. Padahal kalau hujan begini kayaknya paling enak boci (bobo ciang), ya hehehe. Atau ngopi di kamar. View kamar kami menghadap kolam renang jadi rasanya makin adem.

Susah juga sih buat boci. Perut menuntut buat diisi. Tapi, di mana, ya? Masa ikut papah dan mamah ke resepsi pernikahan buat numpang makan siang? Udah coba googling tetep aja bingung. Kami putusin buat ngopi dulu, deh. Kayaknya di hotel ini ada coffee shop. Pas, kami ke sana ternyata masih ditutup padahal seharusnya udah buka. Saya sempat bertanya ke resepsionis, katanya bisa dibuka kalau memang kami ingin ngopi.

Setelah dipikir lagi, mendingan langsung makan siang aja. Hujan juga udah reda. Saya pun bertanya tempat makan empal gentong yang enak dan terdekat dari hotel karena rencananya kami mau jalan kaki.

Resepsionisnya bilang kalau dari hotel ke arah kanan, sekitar 300 meteran ada empal gentong Krucuk. Tapi, resepsionisnya bilang sebaiknya kami ke arah kiri. Mengarah ke stasiun karena di sana ada empal gentong mang Darma. Jaraknya pun lebih dekat daripada empal gentong Krucuk.

Menurut saya, 300 meteran sih gak jauh, lah. Tapi karena resepsionisnya bilang empal gentong Mang Darma lebih dekat, kami pun menurut. Memang sih jarak ke stasiun gak jauh. Seperti yang saya bilang di awal, cuma sekitar 5 menit jalan kaki udah sampe stasiun. Tapi, mana restoran empal gentongnya? Kami pun bertanya ke tukang parkir yang ada di sana. Gak langsung jawab dan sekilas saya seperti melihat wajah bingung.

"Kalau Mang Darma di jalan Cipto, Bu."

Apaaa??! Jalan Cipto kan tempat kami menginap waktu itu. Berapa jauh jaraknya dari Bentani? Kami pun memutuskan untuk terus berjalan kaki. Sesekali saya melihat ke Google Maps. Beberapa kali juga saya bingung karena Google Maps terus mengarahkan ke arah hotel lagi. Ketika kami berjalan ke arah berlawanan, maka rerouting mapnya. Begitu terus.

Hotel Bentani rupanya berlokasi di pusat kota. Selain dekat dengan stasiun, di sekitarnya ada alun-alun, masjid besar, dan pusat pemerintahan. Ada juga beberapa sekolah. Dan, dekat dengan banyak pusat oleh-oleh. Makanya, kami sempat mencari oleh-oleh sebelum pulang. Suami juga terpikat dengan batik megamendung berwarna biru dengan dasar hitam. Ingin punya batik dengan motif itu. Sayangnya pas kami ke salah satu pusat oleh-oleh, gak dapat yang diinginkan. Batik dengan motif megamendungnya sih ada tapi warna lain :)


Hujan deras yang baru saja reda, tidak membuat cuaca Cirebon jadi sejuk. Matahari langsung terasa lumayan menyengat. Anak-anak mulai rewel. Nai malah mulai nangis. Mau berapa jauh berjalan kaki? Ya, karena Nai juga udah mulai nangis, kami memilih rumah makan Ampera aja yang kebetulan ada di depan mata. Gagal deh makan siang pake empal gentong

Byuuuur! Splish Splash Sampe Sore!

Sekitar pukul 13.30 wib kami sudah di kamar hotel lagi. Pengennya sih boci di kamar tapi Nai mulai nagih berenang. Ya udahlah, saya dan para krucil pun mulai berenang. Cuma suami yang memilih boci. Enak bangeeeettt!

Kolam renangnya gak terlalu besar. Tapi nyaman karena gak banyak yang berenang. Mungkin karena masih siang juga. Sekitar pukul 14.00 wib kami berenang. Dan, kolam renang kelihatannya mulai agak rame menjelang sore.


Teteuuup dong, foto-foto mah wajib. Tapiiii ... Ya, batterenya sekarat. Perasaan baru dicharge? Jangan-jangan mulai rusak nih kamera? Padahal andalan kalau lagi berenang biar tetep narsis hahaha. Lem biru aja kali, ya? Cari kamera gopro terbaik, ah! 2 jam aja kami berenang. Selain mulai rame, kamera juga udah mati padahal cuma dipake sebentar :D
Jarak kamar ke kolam renang gak jauh. Tapi yang bikin lama adalah ngetok pintu kamar dan gak dibukain ma suami. Dia tertidur pulas dan padahal kami udah berkali-kali ngetok. Coba kamarnya ada bel, kayaknya gak bakal selama itu kami ada di lorong hihihi
Selesai berenang, kami bersiap makan malam. Kali ini barengan sama orang tua. Asiiikk bakal ditraktiiirrr hehehe. Makan malam di empal gentong H. Apud. Akhirnya, kesampean juga makan empal gentong. Reviewnya nanti aja ya di postingan lain.

 

 Cuma Nai yang ikut menemani ayah dan bundanya. Keke memilih tidur di kamarnya. Nai pesan Banana Split. Sayangnya whipped creamnya habis. Tapi, Nai tetap pengen order

Menjelang tidur, rasanya pengen ngopi. Sebetulnya di kamar juga ada kopi tapi pengen ke restonya. Wijaya Kusuma nama restonya. Suasana di pinggir kolam renang terasa romantis, lho. Suami yang turun duluan sempat pesan minuman dan duduk di pinggir kolam. Tapi, gak lama kemudian hujan turun lagi. Kami pun memilih ngopi di resto saja.
Selain bel kamar, ada satu lagi kekurangan hotel ini yaitu pilihan channel tv nya kebanyakan tv lokal. Sebetulnya kalau menginap di hotel kami gak pernah memikirkan tentang tv. Bahkan pernah nginep di hotel yang siarannya lebih banyak semutnya pun kami gak peduli. Karena biasanya kalau lagi jalan-jalan gitu lebih banyak keluar dan di hotel cuma untuk tidur.

Tapi, di hari itu saya terpaksa begadang menyelesaikan beberapa kerjaan. Paling males kalau lagi jalan-jalan masih bawa kerjaan. Cuma gara-gara selama 2 hari internet di rumah mati, saya pun terpaksa bawa kerjaan saat liburan. Hasilnya, ketika semua sudah terlelap, saya masih begadang hingga lewat tengah malam. Siaran televisi gak ada yang bagus, saya tetap menyalakan supaya berasa ada yang nemenin aja. Tapi bagusnya jadi gak terdistraksi sama tv. Kalau acaranya bagus-bagus bisa-bisa saya malah nonton bukannya nyelesain kerjaan, ya :D
[Silakan baca: Bersantai di Hotel Neo Green Savana Sentul City by Aston]

Main Air Lagiii ....

 


Hujannya awet banget. Sampe pagi masih juga turun. Resto pun penuh dengan tamu untuk sarapan. Sampe resto Jepang yang ada di sebelahnya dibuka untuk para tamu yang akan sarapan. Di hotel Bentani ada 2 resto dengan menu international. Selain resto Jepang, ada juga resto Korea. Sebetulnya ada resto Thailand juga rapi masih direnovasi. Menu sarapannya lumayan beragam. Tapi, untuk rasa biasa aja, sih.

Dan entah karena saat itu tamu sedang ramai atau bagaimana, agak lambat mengisi beberapa tray yang kosong. Apalagi di bagian omelette, rasanya lumayan lama menunggunya. Saya pun memutuskan gak jadi ambil omelette.

Selesai sarapan, Nai pengen berenang lagi. Tapi hujan gak juga berhenti. Saya pun meminta Nai untuk main air di bath tub aja. Lumayan menghibur dia. Bisa berlama-lama main air di bath tub :D


Selesai di situ main airnya? Enggak. Nai masih nagih untuk berenang di Cirebon Waterland! Oke, deh makan siang dulu aja di sana sambil nunggu hujan turun. Tapi ternyata gak reda juga sampai kami selesai makan. Dengan wajah lesu Nai pun menurut diajak pulang. Etapi, malah kami yang gak tega lihat wajah sedihnya hehehe.

Kami pun membolehkan Nai berenang. Tapi sebentar aja dan jangan jauh-jauh. Karena saya dan suami gak ada yang mau berenang. Keke juga gak mau. Nai pun berenang cuma sama sepupunya. Makanya kami minta jangan jauh-jauh berenangnya. Jangan sampai hilang dari pandangan kami. Walaupun cuma sebentar, Nai tetap senang.

Selesai berenang, kami pun pulang. Walaupun hujan terus tapi cukup puas lah jalan-jalannya. Pastinya yang paling puas itu Nai karena 2 hari berturut-turut main air terus. Penginapannya pun nyaman. Staff nya pun ramah-ramah. Fasilitasnya juga lumayan komplit. Boleh lah kapan-kapan nginep di sana lagi. Oiya, Bentani juga kayaknya ada apartmentnya di lokasi yang sama. Mungkin info lebih lanjutnya bisa tanya langsung ke Bentani, ya :)

Hotel Bentani & Residence

Jl. Siliwangi No. 69, Kejaksan
Kota Cirebon
Jawa Barat 45121
Indonesia

Telp: (0231)203246

www.bentanihotel.id

 
Share:

#TravelingHemat di Bandung Karena ZEN Rooms

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms 

Apa sih definisi Sahabat Jalan-Jalan KeNai tentang traveling hemat? Biaya murah? Seberapa murah biaya yang dimaksud? Kayaknya mahal atau murah memang relatif, ya. Trus apa, dong? Kalau menurut saya, traveling hemat itu bila bisa menghemat beberapa pengeluaran. Salah satu caranya adalah mencari penginapan yang strategis. Dekat ke berbagai lokasi tujuan. Menghemat ongkos, syukur-syukur kalau harga penginapannya juga murah.

Jalan-Jalan KeNai ke Bandung pada tanggal 25-27 Maret 2016. Menginap di hotel Promenade, Cihampelas. Sebetulnya, saya agak menyesal juga. Di saat yang bersamaan, orang tua saya juga ke Bandung dan menginap di salah satu hotel bintang 5. Kalau tau gitu kan saya nebeng. Biasanya bakal dibayarin ma papah penginapannya. Traveling hemat banget kan kalau sampe nginep gratis wkwkwk ...

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms

Ya, sudahlah terlanjur booking juga. Lagian gak berlama-lama juga menyesalnya karena hotel yang kami pilih ini strategis banget. Dan, pastinya bisa bikin kami jalan-jalan di Cihampelas. Kami memang paling malas jalan ke Cihampelas bahkan sekadar lewat sekalipun. Padahal di Cihampelas ada mall yang bagus, banyak jajanan, dan lainnya. Tapi, malas berhadapan sama macetnya. Sebisa mungkin kalau lagi di Bandung menghindar jalan Cihampelas, deh.


Nah, kali ini kami memang niat banget pengen menikmati Cihampelas. Makanya dari beberapa hotel yang ada di Bandung kami memilih Promenade dan booking lewat ZEN Rooms. Pertama kali saya tahu tentang ZEN Rooms itu di acara Wego. Wah, menarik juga nih booking lewat Zen Rooms, ujar saya dalam hati.
ZEN Rooms is #1 network of branded budget hotels in Asia. What does it mean? Simply that wherever you stay with ZEN Rooms you can expect the same high-quality standards at the best rates guaranteed. As reliable as your favorite chain, just cheaper! - sumber: www.zenrooms.com -
Ngapain Aja Selama di Bandung?

Hari Pertama

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms 
Bisa nonton tv dari kamar mandi hehehe

Kami sampai di Bandung hari Jum'at siang. Ukurannya pas, gak sempit tapi juga gak kegedean. Ketambahan 1 extra bed juga gak sempit. Unik juga kamar mandinya, karena kaca yang bisa bikin tetap nonton tv walaupun lagi di toilet wkwkwk. Etapi, karena ini sama anak-anak jadi tetep ditutup lah kacanya.

Hari pertama, kami berpencar. Saya dan suami check in sekalian istirahat. Nai main ma sepupunya di kamar hotel tempat orang tua saya menginap. Keke berkumpul sama om dan tante di rumah keluarga besar yang usianya memang hampir sepantaran. Menjelang malam baru kami jemput anak-anak sekalian numpang makan malam :p

Hari Kedua

Sarapan Bubur Ayam

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms 
Warna merah mendominasi hotel ini. Suami memilih cari sarapan di luar hotel. Kanya saya dan anak-anak yang tetap sarapan di hotel 

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms 
Sarapan hari pertama

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms 
Sarapan hari kedua

Biasanya kami minta extra bed dan nambah 1 paket sarapan kalau lagi nginep di hotel. Tapi, kali ini cuma extra bed aja. Selama 2 hari di sana, K'Aie memilih cari sarapan di luar hotel seperti bubur ayam. Itulah enaknya menginap di Cihampelas. Daerah yang seperti gak ada tidurnya. Gak susah cari makanan di sini.

Cihampelas Walk


Salah satu mal favorit saya di Bandung tapi sering males banget ke sini. Macet dan susah cari parkir. Karena menginap di Promenade, kami tinggal nyebrang. Iya, tinggal nyebrang trus jalan sedikit beberapa meter aja! Asik banget gak, tuh! Di sini kami foto-fotoan karena memang banyak spot foto yang bagus.

Warung Ciendog


Pengennya sih berlama-lama di Cihampelas tapi kalau ke Bandung gak mengunjungi keluarga besar, gak enak juga. Lagipula Keke janjian mau nonton sama om dan tantenya. Sebelum nonton, kami pun makan siang dulu di Warung Ciendog. Warung makan dengan menu Sunda yang lumayan murah harganya. Gak sampe IDR160K, kami berempat udah makan kenyang.

Kambing Cairo


Papah saya kalau ke Bandung selalu makan sop kambing di rumah makan favoritnya di sekitar simpang lima, Bandung. Biasanya suka ngajakin tapi kali ini kami ingin makan Kambing Bakar Cairo. Lokasinya tepat di samping hotel. Mantaaap!

Hari Ketiga

Kopi Anjis


Setelah check out, saya pengen mampir ke Kopi Anjis dulu yang jaraknya cuma sekian meter aja. Paling jalan kaki 5 menitan. Tertarik ke sana kayaknya lagi kekinian banget di IG apalagi akopi sanger avocado. Sayangnya Kopi Anjis yang di Cihampelas termasuk cabang baru kayaknya. Menunya belum lengkap.

Kemudahan Lainnya

Minimarket

Kalau jalan sama Keke dan Nai, mengunjungi minimarket itu kewajiban. Di samping hotel ada minimarket. Dan, tau siapa yang paling bahagia? Naima! Tapi, baguslah kalau ada minimarket kan gampang bila butuh sesuatu.

ATM Centre

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms

Ini juga ada di samping hotel. Kalau sewaktu-waktu butuh uang cash jadinya gak bingung. Paling pastiin aja uang di rekening masih ada hehehe.

Spa and Massage

#TravelingHemat di Bandung Karena Zen Rooms

Di dalam hotel ada spa and massage. Saya sempat datangi tempatnya yang berada di pojokan. Kelihatan asri salonnya. Sebetulnya pengen juga nyobain massage di sana. Kaki pegel abis jalan-jalan hehehe. Sayangnya waktu kami terbatas saat itu.

Selama di Bandung, berarti kami cuma jalan kaki sekian meter saja dari hotel ke beberapa tempat. Paling yang rada jauhan ke Warung Ciendog. Hemat ongkos dan pastinya jauh dari stress karena gak ngalamin macet.

Kalau dibilang puas banget selama di sana sih belum, lah. Masih banyak tempat di Cihampelas yang belum dikunjungi. Pengen puas-puasin wisata kuliner di sana atau beli jeans sekalian. Pengen ke sana lagi. Insya Allah, kalau kesampaian udah tau harus menginap di mana. Promenade hotel lumayan juga. Ratenya murah, bersih, servicenya ramah, dan kemana-mana dekat.

Dari pengalaman jalan-jalan ke Bandung ini, Jalan-Jalan KeNai mau berbagi tip #TravelingHemat
  1. Cari penginapan yang strategis tapi bagus kualitas. Ratenya juga gak usah yang mahal. Mencari dan booking lewat ZEN Rooms udah pasti bisa jadi pilihan
  2. Kuliner dan jalan-jalan di sekitar hotel aja biar irit ongkos. Kalau perlu jalan kaki. Udah irit (gak ada ongkos bensin dan parkir), badan pun sehat :D
  3. Kalau di tempat yang dituju ada kerabat, bolehlah ikut makan di rumahnya sekalian bersilaturahmi hehehe
Hmmm ... Apa cobain staycation di Jakarta aja, ya? Atau sekalian rada jauh mainnya. Ke Bali? Cek-cek dulu hotelnya di ZEN Rooms, lah. Ratenya murah, proses bookingnya juga gampang banget. Booking via website, aplikasi, bahkan WA pun bisa. Ya, udah berarti lain kali pake ZEN Rooms lagi aja. Kan, udah ada pengalaman. Ke beberapa negara pun bisa :)

Promenade Hotel




Share:

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon 
Jalan-jalan ke Cirebon, menginap di Batiqa Hotel aja. Penginapan yang sangat strategis di Cirebon

Saya: "Yah, kapan-kapan ke Cirebon, yuk!"
Suami: "Ngapain?"
Saya: "Ya, pengen aja. Cirebon kan termasuk deket ma Bekasi. Tapi kita gak pernah kepikiran jalan-jalan ke Cirebon."
Suami: "Ayo aja. Tapi, naik kereta."
Saya: "Okeee ..."

Itu obrolan yang udah lumayan lama. Kayaknya udah setahun lebih. Bertahun-tahun lalu, saya udah pernah ke Cirebon tapi untuk urusan kerjaan dan gak wisata sama sekali. Lama-lama penasaran juga pengen berwisata ke sana. Apalagi Cirebon kan sebetulnya gak terlalu jauh dari Bekasi, tapi selama ini kami gak pernah kepikiran untuk jalan-jalan ke sana.

Kebetulan banget kami punya voucher menginap 1 malam dari Batiqa hotel. Hadiah menang lomba blog yang diselenggarakan oleh Indonesia Corners bekerjasama dengan Batiqa hotel. Assiiikkk ... Gak perlu keluar uang buat bayar hotel :p

[Silakan baca: Yu Sheng - Hidangan Spesial Imlek yang Sarat Harapan]

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Walaupun punya voucher gak otomatis kami langsung booking di Batiqa hotel. Seperti biasa, browsing sana-sini dulu, terutama lokasi Batiqa. Sejak jalan-jalan ke Bogor awal tahun ini, kami jadi suka jalan-jalan kemanapun naik kendaraan umum. Mobil ditinggal aja di hotel atau dari rumah udah gak bawa mobil. Apalagi kami berencana naik kereta.
Tip: Bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya mencari penginapan yang strategis
Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Setelah browsing, Batiqa memang hotel yang strategis. Tapi trus kami lupa buat pesan tiket kereta. Baru ingatnya tuh 1 minggu sebelum berangkat. Beneran keluarga mepeters hahaha. Yang tersisa udah tinggal harga tiket yang tinggi. Setelah dihitung-hitung, mending bawa mobil aja, deh. Sayang duitnya :p

[Silakan baca: Keliling Bogor, Menginapnya di Padjajaran Suites Hotel & Conference]

Langit gelap menemani kami ketika keluar rumah. Di jalan mulai turun hujan. Bahkan di sekitar tol Cikarang hujan turun sangat deras. Saya membaca social media banyak yang menulis status sedang hujan. Merata dimana-mana nih hujannya. Saya pun mulai sedikit cemas. Walaupun penggemar hujan tapi kalau lagi jalan-jalan kayaknya lebih suka tidak hujan. Alhamdulillah, memasuki Cikampek, hujan mulai berhenti dan di Cirebon tidak hujan sama sekali.

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Melipir dulu ke rest area di tol Palimanan. Perut Keke mulai sakit karena terlambat makan.  Berangkat dari rumah sekitar pukul 06.30 wib membuat kami tidak sempat sarapan dulu. Ya, daripada keburu masuk angin trus tambah berat sakitnya kan gak asik. Nanti malah berantakan jalan-jalannya.

Seperti umumnya rest area, makanan yang dijual di rest area Palimanan cukup beragam. Tapi gak ada tempat makanan seperti fast food atau resto lain yang sudah punya nama. Hanya makanan food court yang menjual aneka makanan dari mulai mie instant hingga kuliner khas Cirebon. Nai pesan mie goreng instan, Keke mie kuah instan, sedangkan saya dan suami pesan empal gentong. Ternyata enak lho kuah empal gentongnya.

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon 
Enak ini empla gentongnya. Lupa harganya berapa hehehe

Sampai Cirebon masih cukup pagi. Sekitar pukul 10.00 wib. Tadinya kepikiran mau jalan-jalan dulu sebelum check in. Tapi, gak ada ide mau kemana. Perut udah kenyang, gak mungkin wisata kuliner. Mau jalan ke tempat wisata lain rasanya malas. Pikir-pikir ke hotel dulu aja. Kali aja bisa early check in. Lumayan bisa leyeh-leyeh sejenak di hotel.
Ciri khas Batiqa hotel adalah banyak terdapat ornamen batik. Batiqa atau batik kelas A diharapkan kualitas hotel ini pun kelas A.
Hotel Batiqa Cirebon lokasinya tidak jauh dari pintu keluar tol. Bener-bener deket, kayaknya cuma sekitar 10-15 menit aja udah sampe hotel. Itupun jalannya cuma lurus doang. Gampang banget lah pokoknya.

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon 
Harga secangkir (kalau gak salah inget) sekitar IDR22K. Yang teh, lupa berapa harganya. Tapi minuman di lounge Batiqa ini termasuk standar. Makanya, suami lebih memilih turun ke lounge kalau mau ngopi daripada bikin sendiri kopi di kamar :D

Kami diminta menunggu sekitar 1 jam karena kamar sedang dipersiapkan. Tunggu di lounge hotel aja sambil ngopi dan ngeteh. Sekitar pukul 10.45 wib saya dikabari kalau kamar sudah siap. Tapi kamar Superior dengan double bed yang saya inginkan adanya tinggal yang smoking room. Kalau mau yang non smoking, bednya yang twin. Kami pun memilih non smoking dengan twin bed.

Konsep tradisional terutama batik cukup terasa ketika memasuki Batiqa Hotel. Dari mulai seragam resepsionis yang menyambut kami dengan ramah, taplak meja kecil di lounge, ornamen dinding, dan lainnya semua memiliki ciri khas batik. Khususnya batik mega mendung Cirebon.

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon
Di kamar pun tetap ada ornamen batik
Ada 2 tipe kamar di Batiqa Hotel, Cirebon, yaitu Superior (20 m2) dan Suite (40 m2).
Sepertinya, dari beberapa kali tidur di beberapa hotel, kamar Superior Batiqa Hotel ini jadi kamar terkecil. Gak ada space lagi buat extra bed. Padahal selama ini kami selalu booking 1 kamar aja kalau kemana-mana. Keke dan Nai masih belum mau dipisah tidurnya ma orang tua kalau lagi jalan-jalan.

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Suami sempat kepikiran untuk nambah 1 room lagi. Keke dan Nai pun mulai mau. Tapi setelah ditimbang-timbang, menginapnya kan cuma semalam. Udah gitu, kamar di sebelah dan depan kami udah diisi tamu. Kalau sebelah-sebelahan kan enak. Kali aja malem-melem Nai gak bisa tidur, bisa gampang nyamperinnya. Kalau gitu, gak apa-apalah sempit-sempitan semalam. Kalau lebih dari semalam kayaknya kami akan booking 2 kamar atau pilih yang Suite room aja.

Suami: "Gunung Ciremai mendung terus, nih."

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon 
Terlihat gunung Ciremai di kejauhan. Sayangnya mendung terus jadi agak samar kelihatannya

View dari jendela kelihatan cakep. Dari kejauhan tampak gunung Ciremai yang menjulang. Sayangnya selama kami di sana kelihatan mendung. Tapi mendung aja udah cakep pemandangannya, apalagi cerah. Pasti gunung Ciremai akan terlihat lebih cakep lagi.

Untuk fasilitas kamar, standar aja seperti umumnya kamar hotel. Ada televisi flat, internet, kursi, lemari, kulkas, dan lain sebagainya. Semua dalam ukuran yang tidak terlalu besar. Untuk menu sarapan, tidak terlalu beragam. Sebetulnya untuk hotel kelas 3, saya memang tidak terlalu mengharapkan menu yang terlalu beragam. Hanya saja kalau bisa sih paling tidak ada 1 menu khas Cirebon di menu sarapan. Entah itu empal gentong, nasi jamblang, atau apalah. Gak standar banget pilihannya walaupun dari segi rasa lumayan enak. :D

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon 
Sarapan di Batiqa Hotel

Untuk service, semua staffnya sangat ramah. Semua menyambut dan melayani tamu dengan senyum. Saya mah gampang disenengin kalau dikasih senyum. Gak bakal mudah komplen, deh kalau ketemu orang ramah hehehe. Iya, saya suka dengan keramahan staff Batiqa Hotel.

Kemana Aja Selama di Cirebon?

Terlepas dari ukuran kamarnya yang kekecilan, tapi lokasi hotel ini memang juara. Kemana-mana dekat banget. Kemana aja kami selama di Cirebon? Kali ini, kami hanya punya niatan wisata kuliner tapi gak ada persiapan cari referensi dari manapun. Mendadak aja, begitu sampe Cirebon langsung browsing sana-sini.

Nasi Jamblang Mang Dul

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Kata mbah Gugel, nasi jamblang yang terkenal dan paling banyak direkomendasikan di Cirebon ada 2, yaitu Mang Dul dan Ibu Nur. Kami pun memilih nasi Jamblang Mang Dul. Salah satu alasannya adalah terdekat dengan hotel dan tinggal lurus doang.

Kalau lihat  Google Maps, butuh waktu sekitar 25 menit jalan kaki ke Nasi Jamblang Mang Dul. 25 menit mah gak jauh, kami putuskan jalan kaki aja. Seharusnya dari hotel, kami berjalan kaki ke arah kiri trus lurus aja sampai ketemu tempat yang dituju *Beneran gak ada belok ke kiri dan kanannya, lho. Lurus terus! :D*

Tapi, kami salah jalan. Oke, sebetulnya saya sih yang dodol baca map hahaha. Dari hotel kami ke kanan. Udah agak jauh berjalan baru nyadar kalau salah. Mau balik lagi buat jalan malas banget. Akhirnya angkot yang jadi penyelamat hahaha. Sekitar 10 menitan sampai ke tempat yang dituju.

Goa Sunyaragi


Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Selesai makan siang, kami bingung lagi mau kemana. Boci aja gitu di hotel? Hihihi ... Apalagi perut udah kenyang, kayaknya emang enak tidur siang di kamar. Etapi tergoda juga buat jalan-jalan. Ke goa Sunyaragi naik becak. Enak, uy! Mata jadi kriyep-kriyep bikin ngantuk.

Udah lama banget gak naik becak. Kayaknya terakhir pas ke Jogja sekitar 2 tahun lalu. Jangankan saya, anak-anak aja ketagihan. Sebetulnya, saya suka gak tega sama abang becak. Kayaknya kasihan banget, ngegowes becak kan berat. Tapi, itu kan caranya mencari nafkah. Lagipula naik becak memang bikin nagih hehehe.

Goa Sunyaragi sebetulnya gak jauh dari hotel. Karena kami naik becak jadinya agak lama sampenya. Tapi kami sangat menikmatinya. Sampe Sunyaragi, abang becaknya bersedia menunggu. Baguslah jadinya kami gak perlu bingung balik ke hotel naik apa. Pihak hotelnya juga sangat ramah, lho. Ketika becak kami berhenti di pinggir jalan, satpam hotel malah meminta becaknya masuk hotel aja. Dan, kami benar-benar baru turun di depan lobby hihihi.

Lawang Abang

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Perasaan perut udah kenyang banget makan nasi jamblang Mang Dul. Tapi pas sore, perut udah menuntut diisi lagi. Mau keluar hotel, tapi udah mager banget. Laper tapi mager. Mager tapi laper. Galaaauuuu ...

Lama-lama gak tahan juga. Jadilah kami bertiga keluar. Keke tetep pilih di kamar. Udah beneran mager dia. Kami bertiga memilih jalan lagi ke arah Nasi Jamblang Mang Dul. Kali aja sepanjang jalan ketemu jajanan yang enak. Paling gak di sekitar Nasi Jamblang Mang Dul banyak banget jajanan kaki lima. Bahkan di seberangnya Grage Mall. Jadi gak bakal susah buat cari makan. Gak taunya baru juga jalan kaki 5 menit udah ada tempat makan yang nyaman dengan berbagai pilihan menu khas Cirebon. Namanya Lawang Abang. Alhamdulillah, gak usah jauh jalan kakinya.

Pawon Bogana Kesultanan Kacirebonan

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Gak ada niatan untuk wisata religi atau mengunjungi berbagai keraton selama di Cirebon. Tapi ketika sedang buka Google, saya menemukan info tentang tempat makan baru. Lokasinya ada di keraton. Menu yang ditawarkan adalah menu istimewa turun temurun yang biasa disantap oleh sultan dan keluarga serta saat acara khusus. Saya penasaran banget dong kayak apa sih rasa menu istimewa tersebut. Sekitar 10-15 menit menuju lokasi bila menggunakan kendaraan pribadi. Masih termasuk dekat banget, kan?

Tomodachi Steak & Seafood

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Sebagai kota pesisir, kayaknya jalan-jalan bakal lebih afdol kalau mencicipi menu laut. Banyak yang merekomendasikan restoran H. Moel di Google sebagai resto seafood terenak di Cirebon. Kami pun sudah memantapkan hati, setelah check out akan makan siang di resto tersebut sebelum balik ke Jakarta.

Rencana tinggal rencana. Malam hari sebelum tidur, saya iseng browsing lagi. Eh, kok ada tempat makan seafood yang instagramable banget? Kalau soal rasa, masih minim review. Pilihannya, makan seafood di resto yang udah banyak rekomendasiin soal rasa. Ataaauuu, ke tempat yang instagramable tapi masih belum tau gimana rasanya. Kalau Sahabat Jalan-Jalan KeNai pilih mana?

Kami pun memutuskan pilih yang instagramable. Ditimbnag-timbang, resto seafood di Jakarta dan sekitarnya kan lumayan banyak. Yang instagramable juga banyak, sih. Tapi, biasanya kalau instagramable setiap tempat punya ciri khas masing-masing. Dan, kalau lihat di instagram, Tomodachi kelihatan unik.

Batiqa Hotel, Penginapan Sangat Strategis di Cirebon

Dibanding tempat lain yang kami kunjungi, Tomodachi yang terletak di Cirebon Waterland itu yang paling jauh. Tapi, sejauh-jauhnya cuma membutuhkan waktu sekitar 25 menit ajah. Itu sih bukan jauh namanya, ya hahaha. Di tengah perjalanan sempat lewat stasiun Cirebon yang ternyata gak jauh dari hotel Batiqa.

Insya Allah, setiap resto dan tempat yang kami datangi akan saya review lebih detil satu per satu di blog ini, ya. Pastinya, jalan-jalan KeNai ke Cirebon ini mengesankan banget. Kemana-mana dekat dan tanpa macet. Cateeeet yang tanpa macetnya hehehe. Udaranya pun selama kami di sana terasa sejuk, gak hujan dan gak terik sama sekali. Makanan yang kami coba, hampir semuanya enaaaakk.

Anak-anak pun sangat betah di Cirebon. Nai malah susah banget diajak pulang. Saya dipaksa berjanji untuk ajak mereka kembali lagi ke Cirebon bulan depan alias bulan September hahaha. Saya bersikeras gak bisa menjajikan akan kembali ke Cirebon dalam waktu 1 bulan lagi. Tapi, Insya Allah akan kembali lagi ke Cirebon karena rasanya masih belum puas mengelilingi Cirebon kalau cuma 2 hari 1 malam saja.

Sekitar pukul 5 sore, kami meninggalkan kota Cirebon. Hujan mulai kami nikmati ketika memasuki daerah Cikampek sehingga jalanan agak tersendat. Ketika sedang menikmati macet dan hujan, papah saya nelpon buat tanya-tanya tentang Cirebon. Katanya, bulan Oktober ada undangan pernikahan. Insya Allah kalau sehat, papah mau ke Cirebon sekalian liburan.

Saya: "Paaah, Chi sekeluarga ikut, yaaaa! Papah udah tau nginepnya di mana? Chi tau hotel yang strategis banget Pah."

Obrolan pun berlanjut dengan cerita tentang Batiqa, kuliner, dan lain sebagainya tentang Cirebon. Semoga aja rencana ini gak ada halangan, ya. Jalan-Jalan KeNai siap datang Cirebon lagi. Yuhuuu! ^_^

Batiqa Hotel, Cirebon









Share:

Golden Sunrise di Sikunir

Golden Sunrise di Sikunir 
Golden sunrise di Sikunir. Cantik, ya? :)

Begitu mobil yang dikendarai suami terlihat memasuki terminal, saya dan anak-anak bergegas menghampiri. Lumayan lama juga kami menunggu. Perjalanan dari terminal Dieng dan sebaliknya memang terlihat macet sekali. Sangat berbeda dengan sehari sebelumnya saat kami akan melakukan pendakian. Jalanan masih terasa cukup lengang saat itu. Setelah semua barang masuk mobil, kami pun berpamitan dengan mas Ivan. Perjalanan kami selanjutnya menuju desa Sembungan untuk melihat golden sunrise Sikunir.

[Silakan baca: Sunrise di Gunung Prau da Turun Gunung via Jalur Dieng]

Makan Malam di Desa Sembungan

Dari terminal Dieng menuju desa Sembungan sebetulnya gak terlalu jauh. Tapi, kami sempat berputar-putar karena nyasar. Mengandalkan GPS juga tumben gak berhasil. Tetap nyasar dan akhirnya bertanya dengan penduduk sekitar, deh.
Tip: Jangan mendadak kalau ingin mencari homestay di Sikunir
Kami termasuk yang rada mendadak ketika mulai mencari homestay. Kebiasaan menunda-nunda hehehe. Selain itu, kami sempat berusaha mencari sendiri dulu. Tapi, berkali-kali googling nomor telpon berbagai homestay di Sikunir, sepertinya gak ada satupun nomor telepon yang langsung ke homestay yang dituju. Semua nomor telpon perantara.

Karena gak juga dapat nomor telpon homestay, barulah saya minta tolong Idah Ceris, blogger asal Banjarnegara. Rada mepet minta tolongnya. Untung masih dapat homestay. Meskipun homestay yang kami inginkan sudah full tapi dapat homestay lain yang nyaman juga. Waktu itu saya pesan ke Idah minta tolong cariin homestay yang bisa masuk mobil dan kamar mandi di dalam dengan fasilitas water heater.

 
Homestay Cebong Indah, tempat kami menginap. Ada masjid besar dan bertingkat tepat di seberangnya. Harga kamar per malam, IDR300K. Ada sih yang seharga IDR250K, tapi kamar mandi di luar. Kalau kamar yang lebih besar, saya kurang tau berapa harga per malamnya.

Kami tiba di Sikunir menjelang maghrib. Kamar yang kami tempati tidak terlalu besar. Hanya muat 1 kasur berukuran king size dengan menyisakan sedikit space untuk meletakkan tas. Tepat di depan homestay, ada masjid. Jadi, kalau mau sholat tinggal nyebrang aja. Di homestay ini juga ada kamar lain yang lebih luas. Kalau bawa keluarga besar sepertinya bisa menyewa kamar yang lebih luas itu. Lumayan bisa banyak masuknya.

Tidur, mandi, atau makan dulu, ya? Ketiganya menggoda di saat bersamaan. Kasur empuk dengan selimut yang tebal benar-benar nyaman buat beristirahat. Tapi, rasanya pengen banget bebersih badan. Sejak berangkat, kami belum mandi hehehe. Perut juga mulai protes karena belum diisi sejak siang.


Kami pun memutuskan lebih baik makan malam dulu. Di desa Sembungan tidak banyak penjual makanan, malah kayaknya kami hanya menemukan 1 tempat saja. Tidak juga menawarkan banyak pilihan menu, hanya nasi goreng dan ayam goreng. Kami memesan 4 porsi nasi goreng dan 2 potong ayam goreng. Lokasinya tidak jauh dari homestay. Cukup jalan kaki, 5 menit saja sudah sampai.

Saat kami makan malam, di luar masih ramai. Tidak hanya karena banyaknya pengunjung ke desa tersebut. Tapi penduduknya juga masih beraktivitas. Beberapa anak kecil terlihat berlarian ke sana-kemari menuju masjid sekitar. Seneng lihatnya, deh.

"Tapi nunggu ya, Bu. Lagi banyak yang beli," kata ibu penjual nasi goreng sambil menggoreng nasi.

Lumayan lama juga kami menunggu hidangan disajikan. Pembelinya pada malam itu sebetulnya gak banyak juga. Tapi ibunya lupa kalau kami sudah pesan dari tadi. Eyaampuuunn ... Kami pun ngakak setelah ibunya bilang lupa hehehe

Seporsi nasi goreng seharga 13 ribu rupiah dan ayam goreng seharga 16 ribu rupiah. Menurut Sabahat Jalan-Jalan KeNai termasuk mahal, gak? Hmmm ... Mahal atau murah memang relatif, ya. Tapi kalau menurut kami harganya gak beda sama harga nasi goreng dok dok yang biasa kami beli di rumah. Padahal dalam pikiran kami kalau di Jawa Tengah dan sekitarnya biasanya lebih murah harga makanan dan miumannya. Ternyata sama aja.

 
Nasi goreng, IDR13K.
Ayam goreng, IDR16K

Setelah makan, kami langsung kembali ke homestay. Di depan homestay, saya melihat mobil yang di dalamnya ada beberapa perempuan muda sedang menanyakan penginapan yang kosong. Dari hasil menguping, rupanya mereka sedang bingung karena gak ada satupun homestay yang kosong. Tuh, jangan mepet kalau mau pesan kamar di desa Sembungan, ya.
Di luar desa Sembungan juga ada beberapa homestay. Tetapi karena Sikunir berada di Desa Sembungan, jadi memang paling nikmat mencari homestay di sini.
Perut udah kenyang, saatnya bebersih badan. Enak banget, deh, mandi air hangat setelah hampir 2 hari gak mandi hihihi. Tapi, begitu keluar dari kamar mandi langsung berasa dingiiiiinnn ... Buru-buru naik ke kasur dan selimutan. Brrrr ....

Kami hanya menyewa 1 kamar saja. Dempet-dempetan berempat di 1 kasur ukuran king size. Tapi, jadinya hangat. Kalau badan cape begini, gak berasa sempit. Begitu rebahan di kasur langsung tidur dengan nyenyak. Kalau gak pasang alarm kayak udah bablas kesiangan.

Macet di Sikunir

Kami disarankan mulai jalan menuju Sikunir pukul 04.00 wib. Diperkirakan sampai puncak Sikunir sekitar 45 menit dengan kecepatan normal, ya. Bukan yang kura-kura kayak saya hahaha. Tapi kata suami setelah adzan subuh aja. Suami sangat yakin masih bisa mengejar sunrise setelah subuh karena lokasi homestay yang lumayan dekat dengan pintu masuk Sikunir.

Ada 3 alternatif menuju pintu masuk Sikunir, yaitu menggunakan kendaraan pribadi, naik ojek, atau jalan kaki. Membawa kendaraan pribadi sangat tidak disarankan oleh penduduk di sana. Alasannya, parkiran udah penuh. Bakal susah banget cari parkir. Kami pun memilih berjalan kaki.

Ketika suami memutuskan untuk berjalan kaki, saya sempat khawatir gak bisa jalan. Masih inget aja waktu pertama kali naik gunung, keesokannya saya ngesot karena kaki rasanya pegal banget hahaha. Tapi kali ini alhamdulillah, gak berasa pegal sama sekali.

Enak juga berjalan kaki menuju pintu masuk Sikunir. Udaranya masih terasa sangat segar dengan langit yang cerah terlihat bintang. Coba di perkotaan kayak begitu, ya. Betah banget, deh. Cuma harus hati-hati aja karena lumayan banyak ojek motor yang mondar-mandir mengantar pengunjung.
Tip: Kalau memilih berjalan kaki, sebaiknya bawa senter. Penerangan di dekat danau agak minim
Jalan menuju bukit Sikunir sudah aspal. Untuk Sahabat Jalan-Jalan KeNai yang merasa lapar atau haus, di area pintu masuk banyak penjual makanan dan minuman. Bahkan terlihat beberapa bangunan permanen yang sedang dibangun. Sepertinya, dengan makin banyaknya wisatwan yang ke sana, mulai terlihat pembangunan di area bukit Sikunir.
Tip: Tetap gunakan alas kaki serta pakaian yang nyaman untuk kegiatan outdoor karena begitu mulai mendaki, jalurnya sempit dan licin.
Maceeeett paraaahhh ...

 
Seperti ini keramaian di Sikunir. Banyak banget pengunjungnya sampe susah bergerak. Maceeett ...

Ternyata di gunung atau bukit pun bisa macet bahkan macet parah. Bahkan untuk pendaki kura-kura macam saya pun kemacetan ini ngeselin karena sering banget berhenti. Jalur menuju uncak Sikunir itu sempit dan licin. Sepanjang pendakian, saya berharap jangan sampai ada yang terpeleset. Takut kayak efek domino gitu, satu jatuh trus yang lain juga. Masalahnya, di pinggirnya jurang. Kan, bikin deg-degan banget.

Sekitar 2/3 pendakian ada tanah lapang. Para pengunjung banyak menyebutnya puncak 1. Kami memilih cukup sampai di sini aja pendakiannya. Itupun terpaksa berpencar saking ramenya pengunjung. Kalau mau sampe puncak 2 masih harus mendaki sekali lagi. Tapi melihat banyaknya yang mendaki dan langit yang mulai terlihat terang, mendingan gak usah melanjutkan pendakian, deh. Gak bisa ngebayangin juga di atas bakal serame apa kalau kayak gitu.

Baru juga saya dapat ruang untuk duduk, tau-tau ada seorang pengunjung yang pingsan. Oleh warga setempat langsung digendong di punggung untuk dibawa turun. Kelihatan sekali yang menggendong gerakannya lincah bagai kancil. Menerobos pengunjung yang membludak kayak gitu.

 
Melihat matahari terbit dari yang cuma setitik dan lama-lama membesar. Menakjubkan!

Walaupun gak sampe puncak, tapi sunrise di Sikunir tetap terlihat sangat indah. Warnanya keemasan sehingga disebut golden sunrise. Pantas saja dibilang golden sunrise. Beruntung sekali, saya diberi kesempatan melihat salah satu maha karya Allah SWT ini. Alhamdulillah.

Saya gak langsung beranjak setelah matahari terbit. Sempat ngobrol-ngobrol sejenak dengan sepasang orang tua di sebelah saya. Dari ceritanya, mereka ternyata sudah mendaki Sikunir sehari sebelumnya. Tapi puncak kepadatan terjadi saat itu sehingga mereka terpaksa turun lagi saking padatnya. Wuiihhh! Perasaan saat aja udah macet banget. Bener-bener gak ngebayangin sehari sebelumnya itu seperti apa ramainya.

Mereka pun memutuskan kembali ke Semarang dan balik lagi ke Sikunir lagi tengah malam. Tidur sejenak di parkiran pintu masuk Sikunir, kemudian mulai mendaki sekitar pukul 2 dinihari supaya dapat spot foto yang bagus. Wah pukul 2 mah kami masih tidur nyenyak, mereka udah mendaki hahaha.

Golden Sunrise di Sikunir 
Nai dan ayahnya memilih mojok. Gak melihat sunrise :D

Setelah berpencar, saya menghampiri Nai dan ayahnya. Untung aja Keke duluan yang nyamperin saya. Kalau gak, saya bakal bingung nyari dimana suami dan anak-anak. Nai dan ayahnya gak ikut menikmati sunrise. Terlalu penuh pengunjungnya sehingga memilih area di pojokan buat ngopi dan sarapan pop mie.
Tip: Di atas bukit Sikunir ada beberapa penjual minuman hangat seperti kopi, teh, dan lainnya juga mie instan. Tapi, kalau kami tetap bawa sendiri. Biar gak jajan hahaha. Bahkan area untuk sholat pun katanya sih ada (tapi saya gak tau di mana area untuk sholatnya)
Golden Sunrise di Sikunir

Setelah ngopi dan sarapan, kami mengelilingi area sekitar. Tapi tetap gak ingin naik ke puncak. Udah cukup lah ngos-ngosannya. Lagian, di area itu aja pemandangannya udah indah banget, kok. Setelah puas foto-foto dan terlihat mulai kosong, kami pun turun. Memang sengaja turun agak siang untuk menghindari macet.

Ternyataaaaa ... Setelah beberapa menit berjalan, masih juga ketemu macet. Mending nunggu lagi, lah daripada ikutan macet. Itupun setelah lumayan lama kami menunggu, masih juga macet. Akhirnya, kami memutuskan untuk turun. Gak tau deh jam berapa itu macetnya terurai.

 
Masih maceeettt ... Di depan itu jalurnya menyempit, mana pinggirnya jurang. Jadi mending duduk manis aja dulu nunggu macet terurai 

 Di tengah kemacetan dihibur dengan musik. Silakan yang mau nyawer :)

Sarapan di Desa Sembungan
Desa Sembungan berada di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian ini membuat desa Sembungan menjadi desa tertinggi di pulau Jawa
Golden Sunrise di Sikunir 
Pemandangan di telaga cebongan. Banyak tanaman kentang dan carica di sekelilingnya

Luas desa Sembungan hanya sekitar 37 ha. Mata pencaharian penduduknya adalah petani. Sepanjang mata memandang banyak terdapat tanaman kentang dan carica yang memang menjadi komoditi utama. Di desa ini juga ada telaga yang dikenal dengan nama telaga cebongan. Disebut begitu karena kalau dilihat dari atas bentuk telaganya seperti kecebong.
Gak dapat homestay? Camping aja di pinggir telaga cebongan
Golden Sunrise di Sikunir 
Sarapan mewah. Bukan karena makanannya tapi viewnya yang gak setiap saat saya dapatkan

Yup! Di pinggir telaga cebongan itu ada camp area. Makanya kami sebetulnya gak begitu khawatir kalau sampe gak dapat penginapan. Kan, udah bawa tenda jadi tinggal camping lagi aja. Kalau areanya penuh juga, berarti tidur di mobil. Tapiiiii ... kalau bisa memang dapat penginapan. Biar bisa mandi hehehe ... Di camp area juga ada MCK, sih. Cuma kan paling enak memang kamar mandi dalam. Bisa bebas berlama-lama mandi sampe puas.

Kami kesana pada awal Mei 2016. Ngobrol dengan penduduk sekitar dan pengunjung, katanya waktu yang paling bagus itu sebetulnya bulan Juli - Agustus. Saat musim kemarau dan suhu lagi dingin-dinginnya. Bisa dibawah 0 derajat. Di puncak suhu terdingin, tanaman terlihat membeku. Dan, itu katanya cantik banget karena terlihat putih seperti es. Asal kuat aja menghadapi dinginnya. Hmmm .... tapi sekarang Juli - Agustus aja masih hujan terus, ya? Kira-kira di sana masih dingin banget gak, ya?

 
Menunya sederhana, harganya murah banget. Lebih puas makan sarapan ini dibanding yang nasi goreng hehehe. Paling yang kurang adalah rasa pedas. Karena semua lauknya agak kemanisan bagi lidah saya

Kami menyempatkan diri untuk sarapan di salah satu warung sederhana dekat telaga. Warung yang benar-benar sederhana. Harga per porsinya pun murah. Seingat saya gak lebih dari 20 ribu rupiah. Tapi viewnya cakep banget. Terlihat perkebunan dan sawah. Jarang-jarang kan lihat yang kayak gitu.

Setelah kami kembali ke penginapan, langsung packing dan bebersih diri. Borong carica dulu yang ternyata kurang banget karena pada suka. Padahal perasaan udah beli banyak hehehe. Kebetulan homestay tempat kami menginap juga buka toko oleh-oleh. Jadi, untuk kami yang tipe malas mampir beli oleh-oleh, ini sangat memudahkan.

Beli beberapa oleh-oleh lain juga, termasuk beli mie ongklok, mie rebus khas Wonosobo. Gak sempat makan langsung di sana. Jadi, kami beli yang dalam bentuk kemasan. Setelah dicobain di rumah, kami kurang suka rasanya yang terlalu manis. Termasuk untuk selera suami saya yang lebih rasa manis dibandingkan saya. Kayaknya kalau makan mie ongklok lagi harus dikasih sambal yang banyak :)

 Inilah pohon carica
Carica, ada juga yang menyebutnya pepaya gunung. Penampakan carica dari mulai daun, batang, hingga buah memang mirip pepaya. Disebut pepaya gunung mungkin karena tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Baru terlihat berbeda ketika carica dikupas, biji di dalamnya lebih mirip seperti markisa. Carica juga gak bisa dikonsumsi langsung seperti buah pepaya. Harus diolah terlebih dahulu karena kalau tidak bisa menyebabkan bibir dan lidah menjadi gatal.
Sekitar pukul 11 siang, kami meninggalkan desa Sembungan. Perjalanan menuju rumah lumayan lancar. Sempat makan siang (yang kesorean), kalau gak salah di daerah Pemalang. Trus beli telor asin dulu di Brebes. Sayangnya lagi gak musim bawang merah. Cuma ada 1 toko yang jual bawang merah dan harganya lumayan tinggi. Sama aja kayak beli di pasar dekat rumah. Lanjut makan malam lagi di jalan tol. Baru deh sampe rumah dan langsung tidur nyenyak :D

Alhamdulillah, badan gak terlalu pegal-pegal keesokan harinya. Cuma males aja ngelihat pakaian kotor yang menumpuk hehehe

Makan siang yang kesorean di daerah Pemalang ini gak recommended. Cumi goreng tepung yang dingin dan masih berasa banget tepungnya. Sop buntut yang biasa banget. Ikan gurame bakar yang teralu kuat rasa jahenya. Ya, setidaknya perut kami terisi biar gak masuk angin karena telat makan.

Makan malam dulu di salah satu rest area. Nah, ini baru puas. Enaaaakk :)
Share:

Seminar Digital GRATIS 100%

Paket TOUR Pilihan

Berlaku: 05 Feb 2019 s.d. 30 Mei 2019 JELAJAH 3 PULAU SERIBU (ONE DAY) *AV-D Mulai dai IDR 100.000

Berlaku: 21 Nov 2018 – 31 Mei 2019 BROMO ONE DAY TRIP *CT-D Mulai dari IDR 300.000

Berlaku: 04 Mei 2019 – 05 Mei 2019 PULAU TIDUNG 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 350.000

Berlaku: 06 Apr 2019 – 30 Mei 2019 PULAU PARI 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 360.000

Berlaku: 27 Mar 2019 – 31 Mei 2019 PULAU HARAPAN 2D1N (OPEN TRIP) *AVD Mulai dari IDR 370.000

Berlaku: 02 Jul 2018 – 30 Mei 2019 PULAU AYER ODT *AV.D Mulai dari IDR 399.000

Berlaku: 01 Agu 2018 – 30 Mei 2019 PULAU PARI 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 809.000

Berlaku: 02 Jul 2018 – 30 Mei 2019 PULAU PARI 2D1N *AV.D Mulai dari IDR 809.000

Berlaku: 13 Jun 2019 – 20 Jun 2019 8D7N CONSORSIUM CHINA VIETNAM BY SJ APR-JUN *TX Mulai dari IDR 7.980.000

Berlaku: 29 Apr 2019 – 03 Mei 2019 5 HARI 3 MALAM KOREA NAMI ISLAND *TX Mulai dari IDR 8.900.000

Berlaku: 05 Feb 2019 s.d. 30 Mei 2019 5 HARI 3 MALAM HAINAN ISLAND HARI SABTU STARTING JAKARTA JUN *TX Mulai dari IDR 4.650.000

Berlaku: 05 Mei 2019 – 08 Mei 2019 4 HARI 3 MALAM BANGKOK PATTAYA *TX Mulai dari IDR 5.500.000

Berlaku: 14 Mei 2019 – 18 Mei 2019 5D THAILAND MALAYSIA SINGAPORE *TX Mulai dari IDR 5.800.000

Berlaku: 01 Nov 2019 – 04 Nov 2019 MOTOGP GRAND PRIX OF MALAYSIA SEPANG INTL CIRCUIT 4D3N *TX Mulai dari IDR 5.900.000

Berlaku: 13 Jun 2019 – 20 Jun 2019 8D7N CONSORSIUM CHINA VIETNAM BY SJ APR-JUN *TX Mulai dari IDR 7.980.000

Berlaku: 12 Mei 2019 – 16 Mei 2019 5 HARI 3 MALAM KOREA NAMI ISLAND Mulai dari IDR 9.000.000

Jadi Agen Sekarang Gratis!

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support